Ilustrasi pornografi anak (Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id)

Blokir Pornografi di Internet, Pakar: Media Sosial Sulit Dicegah

Estimasi Baca:
Kamis, 9 Ags 2018 12:45:12 WIB

Kriminologi.id - Pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Centre (CISSReC), Pratama Persadha, mengatakan upaya Kementerian Komunikasi dan Informatika yang akan memblokir konten pornografi di internet pada 10 Agustus 2018 patut diapresiasi. 

Namun demikian, ia mengingatkan masih terdapat akses yang sulit dihentikan terkait penyebaran konten pornografi yakni melalui medium media sosial. Pratama menyebut media sosial Twitter dan Instagram merupakan yang sangat banyak memuat materi pornografi.

“Apalagi persebaran pornografi lewat aplikasi chatting tidak bisa dicegah,” kata Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) pada Kamis, 9 Agustus 2018.

Semua program Kominfo untuk membasmi pornografi, kata Pratama, perlu diapresiasi. Meski begitu, perlu dikritisi juga karena pornografi tidak hanya ada di mesin pencari atau diakses lewat peramban seperti chrome dan firefox, tetapi banyak juga berada di platform media sosial. 

Dengan hanya memberikan beberapa kata kunci saja, kata dia, pengguna media sosial bisa mencari konten pornografi yang mereka kehendaki. Di Twitter, misalnya, banyak akun yang menyediakan konten pornografi. Tidak hanya berupa gambar, bahkan juga video dengan durasi panjang sampai 10 menit.

Fitur di grup Facebook pun demikian. Pratama mengatakan, amat mungkin adanya kelompok yang bertukar konten pornografi. Hal tersebut dilakukan tanpa diketahui oleh orang di luar grup tersebut.

Karena persebaran pornografi lewat media sosial sulit dicegah. Oleh karena itu, upaya di luar teknis teknologi perlu digencarkan dengan melakukan edukasi mengenai bahaya pornografi langsung di tengah masyarakat.

“Hal seperti ini harus menjadi perhatian Pemerintah agar masyarakat juga cepat melakukan pelaporan. Pasalnya, sulit untuk melakukan sapu bersih akun-akun yang menyebarkan konten-konten pornografi tanpa laporan masyarakat," tutur Pratama.

RZ

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500