Pembantaian di Eastern University Sri Lanka. Foto: Kriminologi.id

5 September 1990, Pembantaian di Kampus Tewaskan 158 Orang Etnis Tamil

Estimasi Baca:
Rabu, 5 Sep 2018 06:00:35 WIB

Kriminologi.id - Pembantaian yang dilakukan oleh pihak militer Sri Lanka terhadap para pengungsi yang berlindung di dalam Universitas Eastern, Sri Lanka. Ada 158 orang pengungsi yang tewas dieksekusi oleh pihak militer.

Para pengungsi adalah kelompok minoritas Tamil Sri Lanka yang berasal dari Kota Batticaloa. Peristiwa ini terjadi pada 5 September 1990 ketika terjadi bentrokan antara masyarakat sipil dengan pihak militer Sri Lanka. Peristiwa pembantaian di dalam kampus baru pertama kali terjadi di Sri Lanka, sehingga peristiwa ini juga dikenal sebagai peristiwa Black September.

Tindakan pembantaian ini berawal ketika terjadi jeda dalam pembicaraan antara pemerintah Sri Lanka dengan kelompok Liberation Tigers of Tamil Eelam atau LTTE untuk mengupayakan perdamaian antara kedua pihak.

Jeda tersebut dimanfaatkan oleh militer Sri Lanka untuk melaksanakan operasi militer dengan tujuan merebut wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok pemberontak LTTE. Salah satu wilayah yang menjadi target operasi adah Provinsi Eastern khususnya Distrik Batticaloa.

Pihak militer melakukan penyisiran terhadap anggota kelompok ataupun pendukung kelompok LTTE. Sebelumnya telah banyak terjadi pembantaian terhadap orang Tamil di Distrik Batticaloa tanpa adanya bukti bahwa orang-orang yang dibunuh benar-benar anggota kelompok LTTE.

Inilah kemudian yang menyebabkan banyak orang Tamil di kota tersebut pergi mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman. Universitas Eastern menjadi salah satu tujuan para pengungsi karena selama kerusuhan tersebut terjadi, pihak militer enggan untuk masuk ke dalam kampus.

Akan tetapi harapan para pengungsi tersebut salah, militer tetap masuk dan menyisir tempat tersebut untuk menemukan orang-orang Tamil. Seperti yang dilansir dari laporan yang ditulis University Teachers for Human Rights atau UTHR, seluruh tenaga pengajar di kampus tersebut memang memberikan perlindungan kepada para pengungsi yang datang.

Selain itu, bendera putih juga telah diletakkan di depan pintu masuk kampus untuk menandakan bahwa kampus tersebut bersikap netral dan hanya menyediakan bantuan medis bagi para pengungsi. Sehingga diharapkan pihak militer tidak akan masuk ke dalam kampus karena secara etika juga militer tidak diperbolehkan masuk ke dalam kampus.

Salah seorang saksi mata menyebutkan bahwa pihak militer tidak menghiraukan bendera putih yang telah mereka pasang dang terus masuk kedalam kampus

“Selama tujuh hari kampus telah menampung sekitar 55 ribu pengungsi lalu pada hari ke delapan pihak militer datang dan masuk ke dalam kampus. Mereka mengabaikan bendera putih yang telah kami pasang di depan kampus. Mereka berkata hendak mencari anggota kelompok Liberation Tigers of Tamil Eelam,” ujar salah satu saksi seperti yang dilansir dari Laporan UTHR yang berjudul Report on The Eastern University Massacre.

Selain peristiwa pembantaian yang terjadi, ratusan orang juga dinyatakan hilang setelah ditangkap ataupun dijemput paksa oleh pihak militer Sri Lanka. Pihak militer awalnya mengatakan bahwa orang-orang tersebut akan ditempatkan di kamp pemerintah, namun ternyata orang-orang tersebut justru menghilang tanpa ada informasi tentang keberadaan mereka.

KOMENTAR
500/500