Black Friday penembakan pengunjuk rasa di Iran. Foto: Ist/Kriminologi.id

8 September 1978, Pembantaian 900 Orang Mengawali Revolusi Iran

Estimasi Baca:
Sabtu, 8 Sep 2018 06:05:55 WIB

Kriminologi.id - Hari ini 40 tahun yang lalu, 8 September 1978, menjadi hari Jumat yang kelam dalam sejarah Iran. Sebutan ‘Black Friday’ tersematkan pada hari ini karena peristiwa penembakan yang dilakukan tentara rezim Shah Mohammad Reza Pahlevi terhadap para pengunjuk rasa di Jaleh Square di Teheran, Iran. Sekitar 400 hingga 900 pengunjuk rasa tewas dalam penembakan massal tersebut. 

Kematian para pengunjuk rasa tersebut kemudian digambarkan sebagai peristiwa penting dalam Revolusi Iran, yang mengakhiri kompromi antara gerakan protes dan rezim Pahlevi.

Sebagaimana dilansir Huffington Post, saat itu tentara melepaskan tembakan ke arah sekitar 20 ribu pengunjuk rasa pendukung Ayatollah Khomeini saat melakukan unjuk rasa di Jaleh Square. Selain menewaskan ratusan pengunjuk rasa, penembakan itu juga menyebabkan sekitar 4.000 pengunjuk rasa lainnya terluka. Peristiwa saat itu digambarkan sebagai ‘lautan darah antara Pahlevi dan rakyat’.

Sebelumnya, protes terhadap kekuasaan Pahlevi terus berlanjut selama musim semi pada 1978. Ketika protes meningkat dan aksi mogok melumpuhkan negara itu, pemerintah Iran, yang dikuasai Pembantaian , mengumumkan darurat militer.

Pahlevi yang sadar akan kondisi kekuasaannya tengah genting, memerintahkan militer menutup sekolah dan universitas, membekukan surat kabar, dan melarang pertemuan lebih dari tiga orang di Teheran. 

Jumat, 8 September 1978, ribuan orang berkumpul di Jaleh Square untuk melakukan unjuk rasa, dipimpin Khomeini, sebagai puncak penolakan terhadap pemerintahan Pahlevi yang dianggap sebagai rezim sekuler dan otoriter. Demonstrasi besar-besaran itu, seakan mengesampikan adanya darurat militer yang diumumkan sehari sebelumnya.

Mengetahui adanya aksi unjuk rasa besar-besaran tersebut, para tentara memerintahkan kerumunan pengunjuk rasa untuk membubarkan diri, namun perintah itu diabaikan. Alasan militer melepaskan tembakan diduga karena para pengunjuk rasa terus menekan.

Peristiwa Black Friday kemudian diakui telah menjadi penanda titik puncak seruan revolusi di Iran. Berawal dari peristiwa pembantaian ini juga terjadi penghapusan monarki Iran kurang dari setahun kemudian.

Black Friday juga diyakini memainkan peran penting dalam meradikalisasi gerakan protes, memobilisasi massa dan menyatukan oposisi terhadap rezim Pahlevi. Peristiwa itu memicu protes yang berlanjut selama empat bulan setelahnya.

Aksi protes yang terus berlanjut di Iran akhirnya menyebabkan Pahlevi meninggalkan Iran pada Januari 1979. Keluarnya Pahlevi dari Iran semakin melancarkan jalan bagi Revolusi Iran yang dipimpin Khomeini.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500