Ilustrasi senjata kimia. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

AS Ancam Suriah dan Sekutu Soal Rencana Penggunaan Senjata Kimia

Estimasi Baca:
Jumat, 7 Sep 2018 12:30:57 WIB

Kriminologi.id - Amerika Serikat mengancam akan bertindak jika Suriah dan sekutunya, Rusia dan Iran, menggnakan senjata kimia untuk menyerang warga sipil di Provinsi Idlib, Suriah. Duta Besar Amerika Serikat, Nikki Haley, menyatakan hal itu sebagai pernyataan Gedung Putih untuk memperingatkan Suriah.

Pernyataan itu disampaiakan Haley saat berbicara pada pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang penggunaan senjata kimia di Suriah, Kamis, 6 September 2018.

"Kami memiliki pesan untuk rezim Assad, dan siapa pun yang mempertimbangkan menggunakan senjata kimia di Suriah ... kami ingin mengambil kesempatan ini untuk mengingatkan (Presiden Bashar al-Assad) dan Rusia-nya dan mitra Iran: Anda tidak ingin bertaruh melawan Amerika Serikat," ujar Haley seperti dikutip Foxnews.com, Jumat, 7 September 2018.

AS dan sekutunya menanggapi dua kali sebelum melawan rezim Assad untuk penggunaan senjata kimia, sekali pada tahun 2017 dan awal tahun ini. Haley meminta Rusia untuk menghentikan rencana serangan rezim Assad saat ini di Idlib. Diperkirakan bahwa hingga tiga juta warga sipil beresiko.

Haley mengatakan bahwa menurut perkiraan AS, Assad telah menggunakan senjata kimia pada orang-orangnya sendiri sebanyak 50 kali, yang menyebabkan 1.500 ratus kematian termasuk wanita dan anak-anak dalam perang tujuh tahun Suriah.

Sebelumnya dalam pertemuan itu, duta besar Rusia U.N. Vassily Nebenzia mengeluhkan "sikap anti-Damaskus," yang diadopsi oleh negara-negara Barat di dewan PBB.

"Damaskus tidak memiliki senjata kimia dan juga tidak memiliki rencana untuk menggunakannya."

Dia kemudian menggemakan sebuah titik pembicaraan Rusia baru-baru ini yang mengklaim bahwa pemberontak Suriah sedang merencanakan serangan kimia dengan maksud menyalahkannya pada rezim Suriah untuk memancing tanggapan militer dari negara-negara Barat.

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500