Masjid di Desa Lading-Lading, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara roboh dan diduga menimbun belasan jamaah yang melakasanakan shalat Isya. Foto: @Sutopo_PN/Twitter

BNPB: Perbedaan Data Korban Tewas Gempa Lombok Utara Hal yang Biasa

Estimasi Baca:
Rabu, 8 Ags 2018 21:41:49 WIB

Kriminologi.id - Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho angkat bicara terkait perbedaan jumlah korban tewas gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Menurut dia, semua data korban meninggal akibat gempa adalah benar karena berdasarkan data lapangan.

"Perbedaan data korban selama masa tanggap darurat adalah hal biasa seperti saat gempa di Sumatera Barat 2009, letusan Gunung Merapi 2010, tsunami Mentawai 2010 dan bencana besar lain," kata Sutopo saat dihubungi dari Pekanbaru, Rabu, 8 Agustus 2018.

Kecepatan melaporkan kondisi penanganan bencana saat krisis, ia mengatakan, diperlukan sehingga berbagai pihak yang terlibat menggunakan data sendiri yang mengakibatkan perbedaan satu sama lain.

Hal itu akhirnya membingungkan media dan masyarakat. Karena itu, koordinasi terkait data perlu ditingkatkan. Data dari masing-masing pihak harus dilaporkan ke Pos Pendamping Nasional (Pospenas) untuk diverifikasi dan keluar satu data.

"Penyamaan data korban dapat disepakati di Posko Utama Tanggap Darurat Bencana, begitu pula dalam gempa Lombok," ujar Sutopo.

Ia menjelaskan, Pospenas melalui komandan satuan tugas dan wakilnya berencana mengundang kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk menyamakan data korban pada Kamis, 9 Agustus 2018.

"BNPB akan mendampingi pemerintah daerah dalam pertemuan tersebut," katanya.

Menurut Sutopo, masing-masing pihak akan membawa data yang lebih rinci yaitu identitas korban termasuk nama, usia, gender dan alamat. Data akan dicek silang satu sama lain karena seringkali satu korban tercatat beberapa kali.

Hal itu dapat terjadi karena korban disebut nama panggilannya sehari-hari, nama lengkap atau nama kecilnya sehingga terhitung tiga orang.

"Media dan masyarakat diminta tetap menggunakan data resmi dari BNPB dan BPBD Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya semua data mengacu pada Pospenas jika sudah ada kesepakatan bersama terkait data korban bencana," ujarnya.

Sebelumnya, beredar data yang berbeda terkait korban meninggal dunia akibat gempa Lombok. BNPB dan BPBD Nusa Tenggara Barat menyebut korban meninggal 131 orang, sementara TNI menyebut 381 orang. 

Sedangkan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dan BPBD setempat menyebut 347 orang dan pernyataan Gubernur Nusa Tenggara Barat dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) 226 orang.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500