Ilustrasi bom. Ilustrasi: Freepik

Bom Meledak di Toko Komputer Filipina, Satu Orang Tewas 13 Luka-luka

Estimasi Baca:
Senin, 3 Sep 2018 11:45:18 WIB

Kriminologi.id - Bom meledak di Toko Komputer Filipina, Minggu, 2 September 2018 malam. Ledakan bom kedua kalinya itu menewaskan satu orang dan 13 lainnya luka-luka. 

Sepekan sebelumnya, bom meledak yang menewaskan tiga orang dan melukai belasan lainnya di kota yang sama, saat warga merayakan ulang tahun berdirinya kota tersebut dan Festival Hamungaya.

Kepolisian Nasional Filipina (PNP) menyatakan, ledakan yang terjadi di dalam sebuah toko komputer ini menewaskan seorang remaja pria berusia 18 tahun.

Remaja tersebut tewas saat menjalani operasi di rumah sakit di Filipina. 

"Kami sangat berduka karena korban-korban yang berjatuhan akibat tindakan pengecut oleh orang-orang yang ingin mencapai tujuan jahat mereka tanpa memerdulikan hidup warga sipil," kata Dirjen PNP Oscar Albayalde.

"Saya telah memerintahkan anggota untuk meningkatkan patroli, memperketat keamanan di area, dan memperkuat kerja sama dengan seluruh pasukan.”

Insiden ini terjadi kurang dari sepekan setelah ledakan lain yang menewaskan tiga orang dan melukai belasan lainnya di kota yang sama, saat warga merayakan ulang tahun berdirinya kota tersebut dan Festival Hamungaya pada pekan lalu.

"Kami telah mengerahkan segala upaya untuk mengamankan tempat tersebut meski ada ancaman, namun hal ini tetap terjadi," ujar Wali Kota Isulan, Marites Pallasigue.

Pallasigue mengatakan, serangan ini merupakan "misi ujian" untuk Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF) yang telah berbaiat kepada Daesh.

Meskipun BIFF menyangkal tuduhan ini, kelompok intelijen Amerika SITE membenarkan bahwa Daesh mengklaim bertanggung jawab atas pemboman terhadap tentara Filipina di kota tersebut pekan lalu.

BIFF adalah kelompok separatis bersenjata berjumlah sekitar 1.000 orang yang menginginkan negara Moro yang merdeka. Nama mereka diambil dari kelompok Muslim pribumi di bagian selatan negara tersebut.

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500