Hak asasi manusia. Foto: Pixabay

Buntut Penangkapan Aktivis HAM, Saudi Usir Dubes Kanada

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 12:30:14 WIB

Kriminologi.id - Kementerian luar negeri Arab Saudi menarik duta besarnya dari Kanada dan memberikan waktu 24 jam kepada duta besar Kanada di Arab Saudi untuk meninggalkan negara tersebut. Pengusiran duta besar tersebut merupakan buntut penangkapan para aktivis hak asasi manusia di Arab Saudi.

Selain menarik duta besarnya Arab Saudi juga membekukan semua transaksi perdagangan dan investasi baru dengan Kanada.

Langkah itu dilakukan setelah Kanada mendesak Riyadh untuk membebaskan sejumlah aktivis hak asasi manusia yang ditahan. Pasukan keamanan Saudi dilaporkan menahan sejumlah aktivis hak asasi manusia sejak beberapa bulan lalu.

Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland dilansir dari Anadolu Agency, Senin, 6 Agustus 2018, menyuarakan keprihatinan atas penahanan aktivis hak asasi manusia Samar Badawi, yang merupakan saudara perempuan aktivis dan penulis Saudi, Raif Badawi.

Kementerian Luar Negeri Saudi mengatakan dalam sebuah pernyataan yang menyebut penahanan itu berdasarkan ketentuan hukum. Sementara permintaan Kanada untuk membebaskan para tahanan dinilai "mengganggu urusan domestik Kerajaan terhadap norma-norma internasional dan semua protokol internasional."

"Ini adalah penghinaan besar yang tidak dapat diterima terhadap hukum dan proses peradilan Kerajaan, serta pelanggaran kedaulatan Kerajaan," kata pernyataan itu.

Samar Badawi menerima penghargaan Women of Courage internasional pada 2012 dalam sebuah upacara di Washington dari mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton serta Michelle Obama.

Aktivis perempuan itu merupakan seorang pembela hak asasi manusia yang diakui internasional. Badawi dan aktivis hak perempuan Saudi lainnya, Nassima al-Sadah, ditangkap pekan lalu dan memicu kecaman internasional.

Selain Samar Badawi, Human Rights Watch (HRW) mencatat aktivis perempuan yang sebelumnya ditangkap adalah Loujain al-Hathloul, Aziza al-Yousef, dan Eman al-Nafjan pada Jumat 18 Mei 2018. Mereka ditangkap bersama dengan Mohammed al-Rabea, dan Ibrahim al-Modaimeegh, seorang pengacara HAM.

Setidaknya empat aktivis hak asasi perempuan lainnya telah ditahan, sehingga jumlah total yang ditangkap berkisar 10 orang.

Selain itu, para aktivis juga mengatakan kepada Associated Press bahwa tujuh dari mereka yang ditahan terkait desakan kepada kepada pemerintah untuk membentuk sebuah organisasi non-pemerintah yang disebut "Amina" yang akan menawarkan dukungan dan tempat tinggal bagi para korban kekerasan dalam rumah tangga. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500