Ilustrasi Meliana Pelaku Penodaan Agama. Ilustrasi: Dwiangga Kriminologi.id

Curhatan Meliana Pelaku Penodaan Agama Dalam Suratnya dari Medan

Estimasi Baca:
Kamis, 6 Sep 2018 12:45:05 WIB

Kriminologi.id - Meliana, terpidana dalam kasus penodaan agama menumpahkan curahan hatinya dalam surat yang dititipkan kepada politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang berkunjung ke LP Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, Rabu, 5 September 2018 kemarin.

Curhatan Meliana itu bertuliskan tangan sendiri dalam sebuah surat. Salah satu dari tiga poin surat itu adalah harapan dirinya semoga kuat dan tegar seperti Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang juga menjalani kasus yang sama.  

Hadir dalam kunjungan PSI ialah Wakil Sekjen PSI Danik Eka Rahmaningtyas, Habib Muannas Alaidid, Surya Tjandra, Heriyanto, dan Mohamad Guntur Romli, didampingi anggota tim penasihat hukum Meliana, Josua Fernandus Rumahorbo.

Surat Meliana, terpidana kasus penodaan agama, Foto: Ist/Kriminologi.id
Surat Meliana, terpidana kasus penodaan agama, Foto: Ist/Kriminologi.id


 Ada tiga surat yang ditulis Meliana. Surat pertama ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia, surat kedua untuk PSI dan yang ketiga untuk mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang juga menjadi terpidana dalam kasus yang sama.

"Saya Meliana. Mengucapkan terima kasih pada teman-teman PSI untuk mengawal dan memperjuangkan keadilan bagi saya. Semoga tidak Ada lagi kasus-kasus seperti yang saya alami di negara kita Indonesia tercinta ini," tulisnya dalam selembar surat yang beredar di media sosial, Kamis, 6 September 2018.

Surat Meliana, terpidana kasus penodaan agama untuk Basuki T Purnama alias Ahok, Foto: Ist/Kriminologi.id
Surat Meliana, terpidana kasus penodaan agama untuk Basuki T Purnama alias Ahok, Foto: Ist/Kriminologi.id

Dalam surat yang ditujukan kepada masyarakat Indonesia, Meliana mengucapkan terima kasih untuk dukungan dari semua pihak. Dia mengaku tidak pernah melakukan tindakan penodaan agama seperti yang dituduhkan kepadanya.

"Saya Meliana ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang sudah mendukung saya selama ini. Saat ini saya masih terpisah dari keluarga, suami dan anak-anak saya. Dan saya masih menunggu keadilan terhadap saya. Sungguh saya tidak pernah melakukan tindakan apapun untuk menistakan agama manapun," tulisnya dalam surat.

Kemudian dalam surat yang ketiga, Meliana mengatakan semoga dirinya kuat dan tegar seperti Ahok dalam menghadapi kasusnya.

"Saya Meliana. Untuk Pak Ahok. Saya selama di Lapas belajar kuat dan tegar seperti Pak Ahok. Semoga tidak ada Pak Ahok dan Meliana yang lain di luar sana. Semoga kita dalam keadaan sehat dan tetap kuat dalam menghadapi setiap cobaan ini. Kiranya Tuha  menyertai kita. Amin," tulis Meliana dalam surat yang ketiga.

Surat Meliana, terpidana kasus penodaan agama, Foto: Ist/Kriminologi.id
Surat Meliana, terpidana kasus penodaan agama, Foto: Ist/Kriminologi.id

Meliana, perempuan asal Tanjung Balai, Medan, Sumatra Utara dituntut karena protes terhadap suara azan di sekitar rumahnya yang terlalu keras. Ia dituntut karena melakukan ujaran kebencian dan penistaan terhadap agama.

Kasus yang menjerat Meliana sebenarnya terjadi pada 2016. Saat itu, ia meminta kepada pengurus masjid di sekitar tempat tinggalnya untuk mengecilkan volume pengeras suara.

Ia mengaku terganggu dengan pengeras suara masjid. Pernyataan Meliana itu memicu kemarahan warga dan menyulut kerusuhan yang menyebabkan sekelompok orang membakar serta merusak vihara dan klenteng di Tanjung Balai.

MUI Sumatera Utara kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Meliana telah melakukan penistaan agama. Kasus ini memasuki ranah hukum setelah jaksa menetapkan Meliana sebagai tersangka penistaan agama pada 30 Mei 2018 dan mendakwanya dengan Pasal 156 dan 156a KUHP tentang penistaan agama.

Pada akhir persidangan, majelis hakim sependapat dengan dakwaan jaksa dan menjatuhi hukuman 1 tahun 6 bulan penjara kepada Meliana sesuai tuntutan jaksa.

Reporter: Marselinus Gual
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500