Pasukan Israel menghalau para demonstran Palestina menggunakan gas air mata selama protes, yang diselenggarakan untuk menandai peringatan 70 tahun Nakba. Foto: Anadolu

Gelar Sidang Luar Biasa, OKI Bahas Penghentian Kekejaman di Gaza

Estimasi Baca:
Jumat, 18 Mei 2018 08:05:34 WIB

Kriminologi.id - Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang membawahi 57 negara anggota menggelar pertemuan luar biasa pada Jumat, 18 Mei 2018, di Turki untuk membahas aksi bersama melawan Israel yang melakukan pembunuhan di Gaza.

Sidang Luar Biasa OKI yang diinisiasi oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan diharapkan dapat memberikan pesan kuat melawan kekejaman Israel yang membunuhi setidaknya 62 warga Palestina saat melakukan demonstrasi di sepanjang perbatasan timur Gaza.

Sejumlah besar pemimpin negara-negara, termasuk Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Afghanistan Ashraf Gani, Emir Kuwait Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, Presiden Maurisia Veled Abdulaziz dan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla akan hadir dalam pertemuan ini.

Sidang ini diharapkan dapat membantu para pemimpin Muslim untuk menentukan sikap yang jelas melawan Israel. Deklarasi final akan diumumkan setelah pertemuan.

Pada sidang luar biasa ini, OKI ini akan fokus pada langkah-langkah yang akan diambil untuk memobilisasi komunitas internasional untuk mengakhiri kejaman itu.

Dalam pernyataan tertulis pada Kamis, 17 Mei 2018, Kalin berkata pendudukan Israel atas Palestina bukan hanya permasalahan negara-negara Muslim saja namun "permasalahan bagi siapapun yang percaya hukum dan keadilan".

"Pertemuan akan fokus pada sikap dan aksi yang harus diambil oleh negara-negara Muslim dalam solidaritas dan kerja sama dengan Negara Palestina dan masyarakatnya untuk membela Palestina dan Yerusalem," imbuh Kalin dilansir dari Anadolu, Jumat, 18 Mei 2018.

Protes di Gaza pada Senin bertepatan dengan peringatan 70 tahun berdirinya negara Israel secara sepihak. Orang-orang Palestina menyebutnya sebagai Nakba atau Malapetaka. Selain itu unjuk rasa juga digelar terkait pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Sejak protes Gaza berlangsung pada 30 Maret, lebih dari 100 pedemo Palestina telah menjadi martir akibat tembakan pasukan penjaga perbatasan Israel.

Pekan lalu, pemerintahan Israel mengklaim protes di perbatasan ini sebagai "perang" sehingga hukum-hukum kemanusiaan internasional tidak berlaku.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500