Militer Suriah menyerang kota Neva provinsi Dera dengan udara dan darat. Foto: Anadolu Agency

Kisah Amar, Istri dan 3 Anaknya Diculik ISIS Saat Kerja Lembur

Estimasi Baca:
Rabu, 29 Ags 2018 10:18:03 WIB

Kriminologi.id - Nashat Abu Amar (40) menerima telepon mendesak dari istrinya, yang ketakutan, sebelum fajar pada 25 Juli. Sang istri memberitahunya bahwa anggota ISIS berada di luar pintu depan rumah mereka dan berusaha menerobos ke dalam rumah mereka.

Lelaki itu baru saja menjalani giliran kerja malam di satu rumah sakit di kota kecil yang berdekatan di luar desanya, Shbeki, di pinggir timur Provinsi Sweida, Suriah Selatan.

Dengan terkejut setelah menerima telepon itu, ia bergegas menemui rekan kerjanya dan mencari siapa saja yang memiliki mobil untuk meminta rekannya mengantar dia pulang. 

Di rumah itu terdapat istrinya, serta ibunya yang berusia 75 tahun dan tiga anaknya, yang paling tua adalah anak lelaki yang berusia 11 tahun.

Saat sampai di pinggir desa dan berusaha mencapai rumahnya, lelaki tersebut ditembak di kakinya oleh seorang petempur ISIS. Teman-temannya dengan cepat membawa dia ke rumah sakit.

Sementara istrinya terus menelepon untuk menanyakan mengapa ia belum juga muncul sementara para penyerang menerobos ke dalam rumah mereka.

Ammar tak bisa memberitahu istrinya bahwa ia ditembak karena khawatir istrinya makin khawatir, demikian laporan Xinhua, Selasa, 28 Agustus 2018 malam. Dia mengatakan lebih baik ia mati karena membela keluarganya daripada dirawat di rumah sakit.

Belakangan lelaki tersebut mendapat kabar bahwa keluarganya dibawa pergi sebagai sandera oleh anggota ISIS yang menyerang Shbeki dan empat kota kecil lain di pinggir timur Sweida sebelum fajar, 25 Juli 2018.

Serangan besar pertama bahkan diwarnai dengan pemboman bunuh diri di dalam Sweida, sehingga lebih dari 260 orang meninggal selama seluruh serangan itu.

Lelaki tersebut kemudian mengatakan ibunya yang sudah berusia lanjut tak bisa berjalan ditembak hingga menemui ajal di bagian timur desa tempat tinggalnya.

"Ibu saya berusia 75 tahun dan menderita gangguan jantung dan ... ditembak hingga meninggal," katanya mengenang ibunya dengan air mata mengalir di pipinya dan suara serak.

Di Shbeki, desa kecil dengan 200 warga, mayoritas dihuni oleh warga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Ketika gerilyawan garis keras menyerang, mereka membawa orang dari rumah yang kaum prianya tidak berada di rumah karena bekerja malam atau keluar negeri.

Para penyerang memperoleh keterangan mengenai rumah itu dari kaum Badui yang sering mengunjungi desa tersebut. Sementara pria lain menghadapi para penyerang memiliki senapan untuk mempertahankan diri.

Jawdat Abu Amman, sepupu Nashat Abu Ammar, berada di Arab Saudi dengan dua saudaranya ketika serangan terjadi. Setelah mengetahui perempuan dan anak mereka dibawa pergi, mereka pulang ke Shbeki tiga hari kemudian.

"Saya merasa bersalah sebab saya tak ada di sini untuk mempertahankan keluarga saya. Perasaan ini seperti luka besar yang dalam, tapi kami memiliki kepercayaan kuat pada militer kami, presiden kami dan kami percaya bahwa keluarga kami yang diculik akan pulang dengan selamat," kata lelaki tersebut.

Ia juga mengambil senapan dan mengenakan pakaian tradisional Sweida bersama saudaranya saat mereka mulai berpatroli di kota kecil itu untuk berjaga-jaga kalau-kalau ISIS melancarkan serangan mendadak.

Anggota ISIS menculik lebih dari 30 orang ketika mereka mundur akibat perlawanan warga lokal dengan dukungan militer. Selama bentrokan, 60 orang tewas di desa tersebut.

Gerilyawan kemudian menjadikan sandera sebagai penawaran kepada militer Suriah untuk mengizinkan anggota ISIS yang terkepung di Provinsi Daraa untuk pergi. Militer belakangan merebut Daraa dan mengepung anggota IS di Perbukitan Tulol As-Safa di pinggir timur Sweida, yang terpencil.

Keluarga orang yang diculik menyeru masyarakat internasional dan organisasi kemanusiaan agar membantu mewujudkan pembebasan keluarga mereka dari cengkeraman IS. Kaum pria di Shbeki mengatakan mereka memiliki kepercayaan pada pemimpin Suriah untuk mewujudkan pembebasan keluarga mereka.

Kaum pria itu kelihatan kuat, meskipun setiap kali mereka mengingatkan kaum perempuan dan anak mereka, air mata berlinang dan mereka menolak untuk memasuki rumah mereka. Mereka memperlihatkan lubang bekas peluru dan bekas serangan IS terhadap rumah mereka.

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500