Di kota pelabuhan Aden, anak-anak bermain di dalam mobil yang hancur. Foto: International Committee of The Red Cross

Menengok Harga Baju Lebaran di Kota Pelabuhan Aden

Estimasi Baca:
Kamis, 14 Jun 2018 05:05:12 WIB

Kriminologi.id - Idul Fitri merupakan momen yang ditunggu-tunggu bagi umat Muslim. Di negara-negara mayoritas Muslim, warga biasanya memadati pasar atau pusat perbelanjaan untuk berbelanja pakaian dan hadiah Idul Fitri. Namun, hal-hal berbeda di negara-negara Arab yang dilanda perang. Kebanyakan mereka mengeluh tentang melonjaknya harga barang, terutama pakaian.

Um Mothana al-Salahi, ibu empat anak dari kota pelabuhan selatan Aden, Yaman, merasa lelah dan tertekan ketika dia terus berjalan menyusuri toko-toko yang berbeda di kawasan itu untuk membeli pakaian Idul Fitri bagi anak-anaknya. 

"Saya menemukan celana dan kaus yang cocok untuk anak-anak saya di beberapa toko, tapi sayangnya saya tidak mampu membelinya," kata Mothana.

Dia menambahkan bahwa harga pakaian di Aden yang dikontrol pemerintah jauh lebih mahal dari yang diharapkannya. Dia mengatakan uang dalam dompetnya hampir tidak cukup untuk membeli sepasang pakian.

"Saya menghabiskan beberapa jam mencari pakaian murah di mana-mana di pasar, tetapi akhirnya saya menyerah dan tidak mendapat apa-apa untuk anak-anak saya," keluh Salahi.

Hal yang sama juga dikeluhkan Haitham Ali, seorang tentara yang baru direkrut, juga mengatakan kepada Xinhua bahwa dia tidak mampu membeli pakaian untuk kedua anaknya, mengingat gaji bulanannya yang kecil.

"Saya menerima 60.000 rial Yaman (Rp 3,3 juta) dan pakaian dua anak saya akan berharga sekitar 49.000 real. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan gaji ini," kata Ali.

Menurutnya kebutuhan lain untuk keluarganya tidak akan mencukupi jika dirinya memutuskan untuk membeli pakaian baru bagi anaknya.

Amri Yusif, seorang pegawai pemerintah, menyalahkan pemerintah Yaman yang didukung Saudi karena tidak menunjukkan usaha untuk memantau dan mengendalikan kenaikan harga menjelang Idul Fitri.

"Kenaikan harga pakaian tahun ini telah mencapai tingkat belum pernah terjadi sebelumnya. Para pemilik toko dengan bebas menetapkan harga komoditas mereka sesuka mereka," kata Yusif.

Dia mencontohkan, sepasang sandal kulit yang diproduksi di Turki harganya mencapai 19.000 real di Aden.

Selain Amri, ada pula Arwa Saleh yang bekerja sebagai seorang pengacara wanita Yaman. Dia juga menuduh pedagang memanipulasi harga. Menurutnya, pedagang menaikkan harga dan mengambil Idul Fitri sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan keuntungan mereka dengan cepat.

Arwa mengatakan bahwa para pedagang tidak takut akan hukuman atau denda karena negara masih dalam keadaan perang.

Namun, para pedagang lokal dan pemilik toko menolak disalahkan atas kenaikan harga itu. menurutnya hal itu terjadi karena pengaruh mata uang asing, khususnya dolar AS.

"Tingginya harga pakaian bukan salah kami. Peningkatan harga BBM dan kesulitan mengimpor barang dari luar negeri karena negara itu berada di bawah blokade, serta pajak berat yang dipungut oleh pihak berwenang, adalah alasan utama di balik krisis ini," kata Amjad Hutaibi kepada Xinhua.

Perang di Yaman berkecamuk sejak 2014, ketika gerilyawan Syiah Houthi yang didukung Iran menguasai sebagian besar negara dan menyita semua provinsi utara termasuk ibukota Sanaa.

Pada Maret 2015, koalisi Arab yang dipimpin Saudi melakukan intervensi secara militer terhadap Houthis sebagai tanggapan atas permintaan resmi dari Presiden Yaman yang diasingkan Abd-Rabbu Mansour Hadi untuk melindungi negaranya. 

Konflik militer antara Houthis yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Saudi baru-baru ini memasuki tahun keempat, yang menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Lebih dari 22 juta orang di Yaman, atau tiga perempat dari populasi, sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk 8,4 juta yang berjuang untuk menemukan makanan mereka berikutnya. ANT

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500