Ilustrasi pagar batas negara, Foto: Pixabay

Pagar Pembatas RI-Malaysia di Tebedu Dijebol Seukuran 2 Orang Dewasa

Estimasi Baca:
Jumat, 13 Jul 2018 12:15:51 WIB

Kriminologi.id - Sejumlah titik pagar pembatas negara Indonesia di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, yang terhubung langsung dengan wilayah Tebedu, Sarawak, Malaysia banyak yang rusak. Bahkan ada pagar yang bolong berukuran dua manusia dewasa.

"Hal ini diketahui setelah Polsek Entikong dan Koramil Entikong, Sanggau melakukan patroli gabungan di sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, pada Rabu (11/7)," kata Ipda Sahid, Panit Sabhara Polsek Entikong, Jumat, 13 Juli 2018.

Dalam patroli bersama itu, petugas menemukan pagar pembatas negara di sisi kiri PLBN Entikong dalam keadaan bolong di sejumlah titik. Patroli ini dilakukan untuk mengantisipasi keluar masuknya barang dan orang melalui jalur ilegal ini. 

Terkait dengan kerusakan pada sejumlah titik pagar pembatas negara, pihaknya mengatakan, petugas di Polsek Entikong telah beberapa kali melakukan perbaikan. Namun, pascaperbaikan, pagar tersebut kembali dijebol oleh oknum yang melintasi jalur pelolosan yang menembus ke jalur tikus itu.

"Bolongnya itu lumayan besar bisa dilalui dua manusia dewasa dan ada dua titik yang bolong di sayap kiri PLBN, sekarang kita tutup dulu bolongnya ini," kata Sahid menambahkan.

Ia mengatakan, pagar pembatas negara antara Indonesia dan Malaysia itu terbuat dari kawat besi.

"Kalau orang mau nekat, diputus pakai pemotong kawat juga bisa, karena kawatnya itu sebesar lidi saja," kata Sahid.

Pos Lintas Batas Negara Entikong merupakan pintu keluar masuk barang dan jasa atau dari Sarawak melalui jalur darat di Kalimantan Barat.

Untuk memantau aktivitas di jalan tikus itu, petugas Polsek Entikong bersama Koramil Entikong meningkatkan patroli di jalur tersebut. Durasi patroli ini, kata Sahid, dilakukan pihaknya dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Tujuannya, agar pergerakan aparat tidak tercium oleh pelaku kegiatan ilegal.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500