Dok. Paus Fransiskus, Foto: Pixabay

Paus Fransiskus Hapus Hukuman Mati karena Menyerang Martabat Manusia

Estimasi Baca:
Sabtu, 4 Ags 2018 14:35:36 WIB

Kriminologi.id - Tahta Suci Vatikan, otoritas tertinggi Gereja Katolik Roma dunia menyatakan penolakan tegas terhadap hukuman mati dalam keadaan apapun.

Paus Fransiskus menyatakan eksekusi mati tersebut menyerang martabat manusia. 

Penghapusan hukuman mati Ini merupakan suatu perubahan baru dalam ajaran Katolik di bawah Paus Fransiskus dimana sebelumnya mengizinkan eksekusi mati dalam kasus-kasus ekstrem.

Presiden Dewan Kepausan untuk Mempromosikan Evangelisasi Baru, Uskup Agung Rino Fisichell mengatakan bahwa perubahan ajaran mengenai hukuman mati adalah kemajuan yang benar dalam kontinuitas dengan ajaran gereja atau Magisterium sebelumnya.

Paus Fransiskus merevisi Katekismus Gereja Katolik (KGK 2267) pada hari Kamis, 2 Agustus 2018. Ia menyatakan bahwa "hukuman mati tidak dapat diterima karena itu adalah serangan terhadap ketidakterlawanan dan martabat orang tersebut."

Fisichella menyoroti tiga alasan adanya perubahan dalam KGK tersebut yakni, pengakuan martabat setiap orang, yang tidak pernah hilang, bahkan ketika mereka melakukan kejahatan yang sangat serius.

Infografik daftar negara dengan eksekusi mati terbanyak
Infografik daftar negara dengan eksekusi mati terbanyak. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Uskup Agung Fisichella mengatakan Gereja Katolik mengakui "perasaan campur aduk dalam menghadapi kejahatan yang begitu kejam dan tidak manusiawi" yang dapat menyebabkan keputusan untuk menjatuhkan hukuman mati.

"Dalam membela penghapusan hukuman mati, seseorang tidak melupakan penderitaan para korban yang terlibat, atau ketidakadilan yang telah dilakukan. Sebaliknya, diharapkan keadilan mengambil langkah yang menentukan, bukan diambil dari dendam dan pembalasan, tetapi dari rasa tanggung jawab di luar saat ini," kata Uskup Agung Fisichella dikutip situs resmi Vatikan, Sabtu, 4 Juli 2018. 

Perubahan ini tentu mendapat kritikan dan penolakan dari negara-negara yang masih melegalkan hukuman mati. Namun, para uskup di seluruh Amerika Serikat menyambut baik perubahan tersebut.

"Saya bersyukur atas kepemimpinan Paus Fransiskus dalam bekerja untuk mengakhiri eksekusi hukum di seluruh dunia," ujar Uskup Agung Joe Gomez dari Los Angeles, seperti dikutip catholicnewsagency.com.

Dia mengatakan revisi itu mencerminkan perkembangan otentik dari ajaran Gereja Katolik yang dimulai oleh Santo Yohanes Paulus II (mendiang Paus Yohanes Paulus II) dan telah berlanjut di bawah Paus Benediktus XVI emeritus dan sekarang oleh Paus Fransiskus.

"Gereja telah memahami bahwa dari sudut pandang praktis, pemerintah sekarang memiliki kemampuan untuk melindungi masyarakat dan menghukum para penjahat tanpa mengeksekusi pelaku kekerasan. Gereja sekarang percaya bahwa tujuan tradisional dari hukuman yakni membela masyarakat, menghalangi tindakan kriminal, merehabilitasi penjahat dan menghukum mereka atas tindakan mereka--dapat lebih baik dicapai dengan cara non-kekerasan," kata Uskup Agung Los Angeles.

Di sisi lain, Indonesia termasuk negara yang masih mempertahankan hukuman mati. Setidaknya, Kejaksaan Agung dibawah pimpinan M Prasetyo telah tiga kali melakukan eksekusi mati. Untuk jilid IV, Prasetyo mengatakan masih menunggu waktu yang tepat.

Adapaun tiga jilid eksekusi sebelumnya yakni, Jilid 1, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (WN Australia anggota Bali Nine), Raheem Agbaje Salami, Sylvester Obiekwe Nwolise, Okwudili Oyatanze (WN Nigeria), Martin Anderson (Ghana), Rodrigo Galarte (Brasil) dan Zainal Abidin (Indonesia).

Jilid 2, sebanyak enam terpidana mati, yakni, Ang Kiem Soei (WN Belanda), Marco Archer (Brasil), Daniel Enemuo (Nigeria), Namaona Denis (Malawi), Rani Andriani (Indonesia) dan Tran Bich Hanh (Vietnam). Kesemuanya kasus narkoba.

Jilid 3, sebanyak empat terpidana mati, Freddy Budiman (WN Indonesia), Seck Osmane (Nigeria), Humprey Jefferson Ejike (Nigeria) dan Michael Titus Igweh (Nigeria).

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500