Dok. Penyerangan gedung pemerintah di Erbil, Irak (23/7/2018). Foto: Anadolu Agency

Penculikan Kepala Suku di Irak, Bentrokan Senjata Pecah

Estimasi Baca:
Jumat, 3 Ags 2018 08:11:39 WIB

Kriminologi.id - Bentrokan bersenjata terjadi antara pejuang Hashd al-Shaabi yang berafiliasi dengan militer dan suku Al-Khazraj di utara Provinsi Saladin, Irak. Pertempuran itu pecah setelah dua pemimpin Al-Khazraj tewas usai diculik oleh gerilyawan yang mendirikan pos pemeriksaan keamanan palsu di luar Distrik Al-Dujail.

"Bentrokan sengit meletus antara suku Al-Khazraj dan Asaib Ahl al-Haq - faksi militan dari Hashd al-Shaabi - di Distrik Al-Dujail, sekitar 120 kilometer dari selatan Tikrit,” kata Letnan Numaan al-Jubouri seperti dikutip dari Anadolu Agency, Jumat, 3 Agustus 2018.

Suku Al-Khazraj, sebuah kelompok yang beranggotakan gabungan antara Sunni dan Syiah, menuduh Asaib Ahl al-Haq menculik dua pemimpin mereka. Namun belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas penculikan tersebut.

Kelompok Asaib Ahl al-Haq yang dipimpin oleh Qais al-Khazali dikenal hubungan dekat dengan Iran. Kelompok tersebut dikenal sebagai faksi paling militan Hashd al-Shaabi.

Pejuang Hashd al-Shaabi, dibentuk pada tahun 2014 untuk melawan kelompok teroris Daesh. Pejuang tersebut kemudian digabungkan ke Angkatan Bersenjata Irak sejak tahun lalu.

Sementara itu dilansir dari Xinhua, pasukan keamanan Irak pada Rabu, 1 Agustus 2018, menemukan mayat tiga tetua suku Al-Khazraj yang diculik pada hari yang sama di Provinsi Salahudin, Irak Tengah.

Ketiga tetua Suku Khazraj itu diculik oleh beberapa pria bersenjata yang mengenakan seragam keamanan palsu. Pos pemeriksaan palsu itu berada di jalan utama di dekat Kota Kecil Dujail, sekitar 60 kilometer di sebelah utara Ibu Kota Irak, Baghdad.

Setelah itu, pasukan keamanan melancarkan operasi pencarian untuk menemukan orang yang diculik tersebut dan menemukan mayat mereka, dengan lubang bekas peluru. Mayat ketiga orang itu dibuang di satu kebun buah di dekat Dujail, kata sumber tersebut. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500