Dok. Menseskab Pramono Anung. Foto: Twitter

Pollycarpus Bebas Murni, Istana: Proses Hukum Sudah Berjalan

Estimasi Baca:
Rabu, 29 Ags 2018 15:55:29 WIB

Kriminologi.id - Pollycarpus Budihari Prijanto, terpidana kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib bebas murni. Meski demikian, aktor intelektual di balik kasus ini masih gelap. Istri Munir, Suciwati mengirim pesan kepada Pollycarpus untuk mengungkap siapa sebenarnya dalang pembunuhan suaminya.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, proses hukum dalam kasus ini sudah berjalan melalui hukuman yang sudah diselesaikan Pollycarpus. Ia diketahui telah menjalani masa tahanan selama 8 tahun atas vonis hakim selama 14 tahun penjara.

"Ya dengan adanya hukuman Pollycarpus dan hukuman sudah selesai artinya kan proses hukum sudah berjalan, dan proses ini dimulai dari pemerintahan sebelumnya bukan hanya pemerintahan pada saat Pak Jokowi," kata Pramono Anung di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 29 Agustus 2018.

"Artinya siapa pun harus menghormati proses hukum yang ada, siapapun itu," imbuh dia.

Pramono menegaskan, pemerintah konsisten untuk mengusut tuntas setiap kasus pelanggaran HAM yang terjadi.

"Semua hal yang berkaitan dengan pelanggaran HAM kalau ditemukan fakta dan novum baru ya (pasti akan diusut)," ujarnya.

Menurut dia, persoalan Pollycarpus merupakan persoalan murni hukum di mana yang bersangkutan telah divonis bersalah.

"Artinya tindakan yang dia lakukan bersalah dan kemudian hukuman itu diberikan oleh hakim dan juga inkrah," ucapnya.

Dalam hal seperti ini, kata Pramono, sebagaimana hukum yang berlaku maka eksekutif tidak bisa melakukan intervensi dalam persoalan hukum itu.

"Sebab hal ini adalah domain kehakiman dan kewenangan penahanannya juga ada di kehakiman karena negara ini yang betul-betul sekarang ini tiga lembaga yudikatif, eksekutif, dan legislatif ini benar-benar mandiri sehingga dengan demikian orang-orang harus menghormati proses hukum itu sendiri," tuturnya.

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500