Kapal penjelajah rudal USS Monterey (CG 61) menembakkan rudal serangan darat Tomahawk. (13/4/2018). Foto: Anadolu News Agency

Pusat Senjata Kimia Suriah yang Dibom AS Ternyata Lab Pengujian Obat

Estimasi Baca:
Senin, 16 Apr 2018 22:05:34 WIB

Kriminologi.id - Serangan bom yang diklaim Amerika Serikat menyasar pusat fasilitas senjata kimia yang berada di utara Damaskus, Suriah, dikonfirmasi sebagai laboratorium obat-obatan dan tempat pengujian mainan. Bangunan tiga lantai itu dihujani 57 rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang AS.

Said Said, seorang insinyur di fasilitas penelitian itu mengatakan bahwa faktanya tidak ada program senjata kimia yang sedang dijalankan di lokasi serangan.

"Anda dapat melihat sendiri bahwa tidak ada yang terjadi. Saya sudah di sini sejak jam 5 pagi. Tidak ada tanda-tanda bahan kimia untuk senjata," katanya seperti dikutip dari Rusia Today, Senin, 16 April 2018.

Sejumlah wartawan telah mengunjungi salah satu target utama serangan ke pusat Studi dan Penelitian Ilmiah di distrik Barzeh di Damaskus utara. Bangunan tiga lantai itu dihujani dengan 57 rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang AS dan 19 rudal udara.

Pemboman besar-besaran meninggalkan reruntuhan serta dan peralatan laboratorium tersebar di sekitar lokasi pemboman.

Berbicara dengan AFP, Said mengatakan bahwa pusat penelitian itu merancang obat penawar untuk racun kalajengking dan ular, serta menguji makanan, obat-obatan dan mainan anak-anak.

Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) telah mengunjungi situs tersebut beberapa kali dan tidak pernah menemukan jejak bahan kimia terlarang. Pada Juni 2014, OPCW menyatakan Suriah bebas dari senjata kimia.

Amerika Serikat mulai melancarkan serangan militer ke Suriah Sabtu pagi, 14 April 2018. Suara ledakan keras bergema di seantero Ibu Kota Suriah, Damaskus. Titik-titik merah terlihat beterbangan dari darat ke langit.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jumat, 13 April 2018, memerintahkan serangan dengan menargetkan persenjataan kimia Presiden Suriah Bashar al-Assad setelah terjadinya serangan gas beracun pekan lalu, yang menewaskan setidaknya 60 orang.

Operasi gabungan dengan Prancis dan Inggris akan terus dilakukan sampai Suriah menghentikan penggunaan senjata kimia.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500