Ilustrasi racun dalam botol parfum. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Rusia Selundupkan Racun Novichok ke Inggris Pakai Botol Parfum

Estimasi Baca:
Kamis, 6 Sep 2018 10:55:45 WIB

Kriminologi.id - Rusia disebut menyelundupkan racun Novichok ke Inggris melalui dua warganya, Alexander Petrov dan Ruslan Boshirov. Keduanya menyamarkan racun mematikan tersebut menggunakan botol parfum. Racun tersebut digunakan untuk membunuh mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal (66) dan putrinya Yulia Skripal. 

"Kedua orang yang menyelundupkan racun tersebut adalah anggota badan intelijen militer Rusia, yang dikenal sebagai GRU,” kata Perdana Menteri Inggris, Theresa May, seperti dikutip Anadolu Agency pada Kamis, 6 September 2018.

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan jaksa penuntut di Inggris yang mengatakan dua warga Rusia itu merupakan tersangka percobaan pembunuhan dengan menggunakan racun di Salisbury, yang menargetkan Sergei Skripal dan putrinya Yulia Skripal awal tahun ini.

Penggunaan racun Novichok oleh Rusia untuk membunuh Skripal, kata May, bertentangan dengan Pakta Senjata Kimia yang sudah ditetapkan sebelumnya. Sebab, penggunaan racun tersebut mengakibatkan kesakitan fisik yang amat parah kepada korbannya.

Akibat racun tersebut, Sergei Skripal dan putrinya dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tak sadarkan diri pada 4 Maret 2018 di Salisbury. Setelah beberapa bulan dirawat, baru mereka diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit Daerah Salisbury.

May mengatakan, kasus yang terjadi di Salisbury sama halnya dengan insiden pembunuhan yang terjadi di Amesbury. Dalam insiden lain di Amesbury, otoritas Inggris menyebut agen intelijen yang sama telah menewaskan seorang wanita dan membuat seorang pria sakit keras.

Korban penyerangan bernama Dawn Sturgess (44), jatuh sakit setelah memegang benda yang terkontaminasi dengan racun Novichok. Ia dibawa ke rumah sakit. Rekannya, Charlie Rowley (45) juga terjangkit racun yang menyasar saraf tersebut. Rowley pun akhirnya dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.

Menurut May, tindakan percobaan pembunuhan menggunakan racun mematikan ini perbuatan yang amat keji dan tercela. Pihaknya berjanji jika kedua tersangka itu meninggalkan Rusia, Inggris akan berusaha menangkap mereka. Surat penangkapan internasional pun telah dikeluarkan untuk melakukan penangkapan. 

“Tindakan GRU adalah ancaman besar untuk semua sekutu dan warga kami. Kita harus berusaha bersama untuk melawannya," ujar May. 

Sementara itu, Asisten Komisioner Polisi Metropolitan, Neil Basu, mengatakan sangat mungkin kedua tersangka bepergian menggunakan nama alias atau palsu, yakni Petrov dan Boshirov sebenarnya bukan nama asli mereka.

Sebelum menyerang Skripal dan putrinya, kata Basu, kedua agen tersebut tiba di Bandara Gatwick London dari Moskow dua hari sebelum penyerangan. Dari Bandara kemudian mereka pergi ke Salisbury. Mereka meninggalkan London menuju ibu kota Rusia sesaat setelah membubuhkan racun Novichok di pintu depan rumah Skripal.

Berdasarkan rekaman CCTV yang didapat dari hasil penyelidikan, para tersangka diperkirakan berusia sekitar 40 tahun.

Seperti diketahui, Sergei Skripal diberikan suaka oleh Inggris setelah program pertukaran mata-mata antara Amerika Serikat dan Rusia pada 2010. Sebelum pertukaran ini, Skripal sempat dipenjara selama 13 tahun karena membocorkan informasi kepada intelijen Inggris.

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500