Serangan rudal darat Tomahawk yang diluncurkan AS. Foto: Anadolu

Rusia: Target Serangan Amerika ke Suriah Pangkalan Militer

Estimasi Baca:
Selasa, 17 Apr 2018 21:30:27 WIB

Kriminologi.id - Kementerian Pertahanan Rusia, Senin, 16 April 2018, menyebut target serangan Amerika Serikat, Inggris dan Prancis ke Suriah yang sesungguhnya bukan pusat senjata kimia namun, istalasi militer dan pangkalan udara. 

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Joseph Dunford pada Sabtu, 14 April 2018 mengatakan serangan tersebut memiliki tiga sasaran di Suriah, yakni pusat penelitian sains di Daerah Damaskus, instalasi penyimpanan senjata kimia di sebelah barat Holms dan instalasi di dekat sasaran kedua.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konshenkov mengatakan, radar mendeteksi 103 rudal yang ditembakkan oleh koalisi Barat, seperti yang dilaporkan Xinhua, Selasa, 17 April 2018. Hal itu berarti rata-rata 30 rudal ditujukan ke masing-masing sasaran, kata Konashenkov.

"Ini lah yang sesungguhnya terjadi. Sasaran sesungguhnya serangan tersebut oleh Amerika Serikat, Inggris dan Prancis pada 14 April bukan hanya instalasi di Barzeh dan Jaramana tapi juga sasaran militer Suriah, termasuk pangkalan udara," katanya.

Pasukan Suriah menggunakan sistem pertahanan udara era Uni Sovyet dan menembakkan 112 rudal permukaan ke udara untuk mematahkan serangan pimpinan AS, dan menghancurkan 71 dari seluruh 103 rudal yang diluncurkan oleh koalisi itu, kata Konashenkov.

Amerika Serikat mulai melancarkan serangan militer ke Suriah Sabtu pagi, 14 April 2018. Suara ledakan keras bergema di seantero Ibu Kota Suriah, Damaskus. Titik-titik merah terlihat beterbangan dari darat ke langit.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jumat, 13 April 2018, memerintahkan serangan dengan menargetkan persenjataan kimia Presiden Suriah Bashar al-Assad setelah terjadinya serangan gas beracun pekan lalu, yang menewaskan setidaknya 60 orang.

Operasi gabungan dengan Prancis dan Inggris akan terus dilakukan sampai Suriah menghentikan penggunaan senjata kimia.

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500