Dok. Kondisi korban bom di kota Kabul, Afganistan (28/1/2018). Foto: Anadolu News Agency

Serangan Bersenjata di Afganistan Tewaskan 26 Orang

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 09:05:18 WIB

Kriminologi.id - Sebanyak 26 orang tewas dalam dua serangan terpisah di Afganistan, Selasa, 31 Juli 2018. Serangan pertama berasal dari sebuah bus berpenumpang yang menabrak bom yang ditanam di pinggir jalan. Sementara serangan kedua kelompok bersenjata menyerbu gedung pemerintah di kota Jalalabad.

Juru bicara gubernur Farah, Naseer Mehri mengatakan sebuah bus penumpang menabrak bahan peledak rakitan yang ditanam oleh kelompok Taliban.

“Bus sedang dalam perjalanan dari provinsi Herat ke ibukota Kabul, 11 penumpang tewas dan lebih dari 30 orang terluka,” kata Mehri dilansir dari Anadolu Agency, Rabu, 1 Agustus 2018.

Taliban sejauh ini belum mengklaim serangan itu. Dalam serang bom tersebut setidaknya 11 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, tewas dalam ledakan di tepi jalan di provinsi Farah yang berbatasan dengan Iran.

Kota Farah sempat jatuh ke pejuang Taliban pada Mei tahun ini. Pejabat lokal sering menyalahkan Iran karena mendukung kelompok bersenjata di bagian negara ini. Tuduhan yang berulang kali dibantah oleh Teheran dan Taliban.

Sementara serangan lainnya terjadi di kantor direktorat urusan pengungsi di provinsi Nangarhar timur yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata pro-Daesh.

Setelah pengepungan bersenjata selama berjam-jam, pihak berwenang mengkonfirmasi 15 orang tewas dan 20 orang terluka.

Dilansir dari Reuters, seorang saksi bernama Obaidullah mengatakan serangan itu bermula ketika sebuah mobil hitam berisi tiga orang berhenti di gerbang gedung tersebut. Satu pria bersenjata kemudian keluar dari mobil tersebut dan melancarkan tembakan ke sekelilingnya.

Satu penyerang meledakkan dirinya di gerbang dan dua pria bersenjata memasuki gedung, yang letaknya berada di dekat kawasan pertokoan dan kantor pemerintahan. Beberapa menit kemudian, mobil tersebut meledak hingga melukai sejumlah orang.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500