Ilustrasi kredit macet. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kabur ke Medan, Kepala Cabang BRI Agro Buronan Kasus Kredit Fiktif

Estimasi Baca:
Kamis, 2 Ags 2018 13:30:19 WIB

Kriminologi.id - Syahroni Hidayat, buronan kasus tindak pidana korupsi kredit fiktif BRI Agro senilai Rp 5 miliar dibekuk tim gabungan Kejaksaan Tinggi atau Kejati Sumatera Utara dan Riau. Syahroni dibekuk setelah buron selama 3 bulan kabur ke Medan, Sumatera Utara.

“Yang bersangkutan merupakan buronan kasus pemalsuan agunan kredit dengan perkiraan kerugian negara Rp 5 miliar. Syahroni ditangkap di sebuah rumah kompleks Johor Indah, Kota Medan, Sumatera Utara,” kata Kepala Penerangan Hukum dan Humas Kejati Riau, Muspidauan, di Pekanbaru, Riau, Kamis, 2 Agustus 2018.

Muspidauan menjelaskan, Syahroni merupakan mantan Kepala Cabang BRI Agro Pekanbaru. Sebelum ditangkap di Medan, tersangka diketahui telah berulang kali mangkir dari pemeriksaan penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Pekanbaru.

Karena kerap mangkir, Syahroni ditetapkan sebagai buronan sejak tiga bulan lalu. Setelah melakukan penyelidikan dan berkoordinasi dengan intelijen kejaksaan, tersangka berhasil ditangkap pada Rabu, 1 Juli 2018 malam sekitar pukul 20.45 WIB.

"Saat ini tim Kejari Pekanbaru tengah menjemput tersangka untuk dibawa ke sini. Sore nanti diperkirakan tiba," ujarnya.

Dalam kasus ini, penyidik Pidana Khusus Kejari Pekanbaru telah menetapkan dua tersangka. Selain Syahroni, seorang yang dijadikan tersangka yakni JYH, mantan pegawai PT Perkebunan Nasional (PTPN) V.

Sayang, ketika penanganan perkara tersebut masih berjalan JYH meninggal dunia sehingga perkaranya gugur.

Menurut Muspiadauan, dugaan korupsi ini berawal dari pemberian kredit kepada 18 debitur senilai Rp 4,5 miliar. Jumlahnya bervariasi untuk setiap kreditur. Mulai dari Rp 150 hingga Rp 300 juta. Jangka waktu kredit selama 1 tahun, dan jatuh tempo Februari 2010, dan diperpanjang beberapa kali sampai dengan 6 Februari 2013.

Sejak tahun 2015, kredit yang dikucurkan tersebut dikategorikan sebagai kredit bermasalah atau non performing loan sebesar Rp 3,827 miliar. Jumlah ini belum termasuk bunga dan denda. Diduga terdapat rekayasa dalam pemberian kredit karena penagihan terhadap debitur tidak dapat dilakukan karena mereka tidak pernah menikmati fasilitas kredit yang diberikan.

Sementara agunan kebun kelapa sawit seluas 54 hektare atas hak berupa SKT/SKGR tidak dikuasai oleh BRI Agro. Selain itu, tidak dapat ditingkatkan menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM) karena termasuk dalam areal pelepasan kawasan 3 perusahaan serta termasuk dalam kawasan kehutanan.

Saat itu, pihak bank memberikan kredit dalam bentuk modal kerja untuk pembiayaan dan pemeliharaan kebun kelapa sawit yang terletak di Desa Pauh Kecamatan Bonai Darussalam, Rokan Hulu (Rohul), kepada 18 debitur atas nama Sugito dan kawan-kawan, dengan total luas lahan kelapa sawit seluas 54 hektare sebagai agunan.

RZ

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500