Ilustrasi Perdagangan Orang. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminolog: Pengunaan Media Sosial dalam Trafficking Lumrah

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 12:50:12 WIB

Kriminologi.id - Penggunaan media sosial dalam kasus perdagangan orang merupakan modus yang lumrah. Sindikat perdagangan orang berjumlah tiga orang masing-masing berinisial TDD, GC dan YH memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dalam menyelundupkan sejumlah wanita asal Indonesia ke Cina. 

Menurut Kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso para pelaku kerap memanfaatkan teknologi informasi terutama melalui media sosial untuk mencari para korbannya.

“Intinya kejahatan itu berkembang mengikuti perkembangan teknologi yang ada,” kata Kisnu melalui sambungan telepon kepada Kriminologi.id, Rabu, 1 Agustus 2018.

Menurut Kisnu, banyak modus pelaku dalam menggunakan media digital untuk menghampiri korbannya mulai dari situs internet hingga media sosial.

“Sekarang dengan adanya teknologi informasi mereka menggunakan media itu untuk kemudian menghubungi korban. Modusnya banyak, pertama menggunakan website, beriklan lewat website, kalo tertarik silakan hubungi Whatsapp. Kedua mereka berjejaring lewat medsos apakah itu WA grup, apakah itu menjadi modus lumrah sekarang iya,” kata Kisnu.

Kisnu menjelaskan, setelah calon korban menemukan iklan tersebut melalui website ataupun media sosial, mereka kemudian akan diundang untuk masuk ke grup media sosial. Kemudian untuk membuat pekerjaan tersebut menarik, pelaku menggunakan testimoni melalui pihak lain.

“Ada semacam sukses story saya kerja di sini terima kasih atas bantuan atas PT ini mempermudah, padahal itu temannya dia sendiri dan ketika korban membaca masuk lah dia,” kata Kisnu.

Kisnu juga menjelaskan jika modus perdagangan menggunakan tipu muslihat kepada korbannya merupakan modus lama yang digunakan pelaku.

“Trafficking sering melibatkan tipu muslihat. Sebenarnya modus lama penggunaan tipu muslihat itu. dijanjikan kerja di luar negeri kerjaan enak, bayaran tinggi dan lainnya. Dulu mereka melakukan itu bergeriliya, mereka punya agen, turun ke daerah-daerah,” kata Kisnu.

Polda Jawa Barat mengungkap penjualan manusia ke Cina tersebut yang sudah berlangsung pada 2017 hingga Juli 2018. 

Sindikat perdagangan manusia berjumlah tiga orang masing-masing berinisial TDD, GC dan YH memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dalam menyelundupkan sejumlah wanita asal Indonesia ke Cina. 

Para korban yang merupakan wanita berusia 16-21 tahun, diiming-iming mendapat penghasilan besar jika mau dikawini secara kontrak. Pengungkapan kasus itu berkat salah satu korban yang berhasil kabur dan kemudian melaporkan salah satu Polres di Jabar. AS

Reporter: Achmad Sakirin
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500