Beruang madu (Helarctos malayanus) betina. Foto: menlhk.go.id

Pemburu Beruang Madu Jual Satwa Seharga Rp 150 Juta

Estimasi Baca:
Minggu, 12 Ags 2018 11:43:49 WIB

Kriminologi.id - Empat pemburu beruang madu nekat menjual satu beruang madu opsetan (satwa mati yang diawetkan) dan dua buah kulit satwa tersebut seharga Rp 150. Keempatnya ditangkap di dalam kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung

Tim gabungan dari petugas kehutanan setempat bersama Polsek Bengkunat membekuk keempatnya setelah petugas TNBBS yang menyamar sebagai pembeli.

Dari catatan Humas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), awalnya terduga pemburu beruang yang ditangkap adalah Hendra (63), warga Pekon (Desa) Sukamaju Kecamatan Ngaras Kabupaten Pesisir Barat.

Hendra ditangkap pada Sabtu, 11 Agustus 2018 sekitar pukul 00.30 WIB. Ketika itu, Hendra akan menjual satu opsetan (satwa mati yang diawetkan) berupa beruang madu dan dua buah kulit satwa tersebut seharga Rp 150 juta kepada petugas TNBBS yang menyamar sebagai pembeli.

Setelah menangkap Hendra, petugas yang terus melakukan pengembangan kembali menangkap tiga orang lainnya yakni Aroni alias Inday (60), Mardiansyah (38) dan Fahrizal Husin (54). Ketiganya warga Pekon (Desa) Penyandingan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat.

Kapolsek Bengkunat, Iptu Ono Karyono, mengatakan keempat orang yang ditangkap tersebut diduga telah melakukan kasus tindak pidana kehutanan sebagaimana dimaksud Pasal 40 ayat (2) jo Pasal 21 ayat (2) huruf b dan d UU RI No 05 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Berdasarkan keterangan Hendra, kata Iptu Ono Karyono, satu opsetan satwa beruang madu diperoleh dari seorang bernama Fahrizal Husin. Sementara dua buah kulit beruang madu Hendra mendapatkannya dari Aroni. Adapun Aroni mendapatkannya dari Mardiansyah.

"Dua buah kulit beruang madu masih mengeluarkan bau busuk, " kata Kapolsek Ono Karyono.

Kapolsek melanjutkan, menurut keterangan Mardiansyah, dua kulit beruang madu tersebut merupakan hasil berburu bersama dengan Heri dan Rudi yang sekarang buron.

"Perburuan tersebut dilakukan pada Hari Jumat tanggal 3 Agustus 2018 sekitar pukul 14.00 WIB dalam kawasan TNBBS Register 22B Pekon Sumber Rejo Kecamatan Bengkunat Kabupaten Pesisir Barat," sebutnya.

Kemudian, pada Minggu 5 Agustus sekitar pukul 14.00 WIB di kebun kopi dan lada Kawasan Hutan Marga yang berada di Pekon Bumi Ratu Kecamatan Ngambur Kabupaten Pesisir Barat, pelaku melakukan perburuan dengan menggunakan alat senapan angin, pisau, dan alat penerang senter.

“Setelah pelaku mendapatkan hewan buruan, mereka menguliti satwa buruan tersebut dengan menggunakan pisau, lalu dikeringkan dengan cairan kimia jenis spritus sebagai pengawet atau dijadikan opset. Kemudian pelaku menjual hasil buruan tersebut untuk mendapatkan uang," ujar kapolsek.

Saat ini, empat orang yang telah ditangkap dan berstatus tersangka tersebut beserta barang bukti diamankan di Polres Lampung Barat guna proses penyidikan oleh PPNS Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera dan PPNS Balai Besar TNBBS, serta dibantu oleh Penyidik Polres Lampung Barat.

Selain TNBBS, tim gabungan juga terdiri atas Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen PHLHK) Yayasan Badak Indonesia (Yabi), Wildlife Conservation Society (WCS), Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC).

Pelaksana Harian Kepala Balai Besar TNBBS Heru Rudiharto, mengaku prihatin hingga saat ini masih terjadi perburuan liar di kawasan TNBBS.

“Saya sangat mengapresiasi hasil kerja kawan-kawan di lapangan, dan kita mengharapkan perburuan atas satwa mamalia besar yang menjadi logo dari TNBBS ini tidak terjadi lagi,” kata Heru. AS

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500