Ilustrasi perdagangan orang. Ilustrasi: Kriminologi.id

Perdagangan Orang Sasar Masyarakat Ekonomi Lemah

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 13:59:57 WIB

Kriminologi.id - Kasus perdagangan orang yang diungkap Polda Jawa Barat, menyasar masyarakat dengan karakteristik ekonomi lemah. Negara diharap memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pola kejahatan tersebut agar tak lagi terjadi.

“Polanya adalah edukasi ke masyarakat. misalnya bekerja terutama mereka yang ingin bekerja di luar negeri, ada syarat-syaratnya,” kata Kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso kepada Kriminologi.id, Rabu, 1 Agustus 2018.

Kisnu menjelaskan, selain edukasi, negara juga harus memberikan pekerjaan yang layak sehingga kita tidak tertarik ke luar negeri.

“Karena biasanya mereka itu menyasar pekerjaan-pekerjaan kelas bawah. Ditawari untuk pekerja restoran, menjadi PRT (pembantu rumah tangga). Pokoknya karaktersitiknya tingkat perekonomian rendah, jumlah penganggurannya tinggi, jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Itu kantong-kantong potensial,” ujar Kisnu menjelaskan.

Terkait kasus kejahatan perdagangan orang yang dinilai sebagai kejahatan terorganisir, Kisnu hal itu karena perdagangan orang banyak menyasar para pekerja yang tertarik ke luar negeri.

“Biasanya sudah punya agen, agen itu yang kemudian mengurusi berbagai prosedur surat menyurat berkas paspor, cuma kerana mereka berniat jahat biasanya mereka memalsukan. KTP dipalsukan, palsukan ijazah, izin orang tua palsukan itu sudah ada jaringannya,” ujar Kisnu.

Dia juga menegaskan, mulai perekrutan para calon korban hingga calon korban berangkat ke luar negeri memiliki jaringan. Mereka sudah memiliki bagian-bagian tertentu dalam praktik tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Polda Jawa Barat mengungkap penjualan manusia ke Cina tersebut yang sudah berlangsung pada 2017 hingga Juli 2018. 

Sindikat perdagangan manusia berjumlah tiga orang masing-masing berinisial TDD, GC dan YH memanfaatkan media sosial untuk berkomunikasi dalam menyelundupkan sejumlah wanita asal Indonesia ke Cina. 

Para korban yang merupakan wanita berusia 16-21 tahun, diiming-iming mendapat penghasilan besar jika mau dikawini secara kontrak. Pengungkapan kasus itu berkat salah satu korban yang berhasil kabur dan kemudian melaporkan salah satu Polres di Jabar.  AS

Reporter: Achmad Sakirin
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500