Gedung Bank Mandiri Foto: bankmandiri.co.id

Tiga Pegawai Bank Mandiri Tersangka Pembobolan Rp 1,4 T Dicekal

Estimasi Baca:
Rabu, 21 Mar 2018 23:30:48 WIB

Kriminologi.id - Kejaksaan Agung melakukan pencekalan bepergian ke luar negeri terhadap tiga pegawai Bank Mandiri yang menjadi tersangka pembobolan Bank Mandiri cabang Bandung sebesar Rp 1,4 triliun. Cegah tangkal (cekal) itu dilakukan agar ketiga tersangka tidak melarikan diri ke luar negeri selama menjalani proses hukum.

Ketiga pegawai Bank Mandiri yang menjadi tersangka pembobolan adalah Surya Baruna Semenguk yang menjabat sebagai Commercial Banking Manager, Frans Eduard Zandra sebagai Relationship Manager, dan Teguh Kartiko Wibowo sebagai Senior Kredit Risk Manager. 

Jaksa Agung Muda Intelijen Jan S. Marinka dalam keterangan kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 21 Maret 2018 mengatakan pencegahan ketiganya telah berlangsung sejak 30 Januari 2018 lalu dan berlaku selama 6 bulan ke depan.

Ketiga pegawai Bank Mandiri tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung pada 22 Januari 2018. Ketiganya diduga berperan sebagai pengusul pengajuan kredit oleh PT Tirta Amarta Bottling (TAB) yang membuat perusahaan air minum itu mendapat perpanjangan kredit sebesar Rp 1,170 triliun.

Selain ketiga tersangka dari pihak Bank Mandiri, dua orang tersangka dalam pembobolan bank pelat merah ini adalah dua petinggi PT TAB yaitu Direktur Utama PT TAB Rony Tedy yang telah ditahan penyidik sejak 24 Januari 2018, dan Kepala Akuntan PT TAB Juventius yang dibekuk pada Selasa malam, 20 Maret 2018 di tempat persembunyiannya di Apartemen Metro Suites Bandung.

Kasus pembobolan bank yang merugikan negara hingga Rp 1,4 triliun itu bermula pada 15 Juni 2015, berdasarkan Surat Nomor: 08/TABco/VI/205 Direktur PT TAB mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Commercial Banking Center Bandung.

Perpanjangan seluruh fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp 880.600.000.000, perpanjangan dan tambahan plafond LC sebesar Rp 40 miliar sehingga total plafond LC menjadi Rp 50 miliar. Serta fasilitas Kredit Investasi (KI) sebesar Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Dalam dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit terdapat data aset PT TAB yang tidak benar dengan cara dibesarkan dari aset yang nyata. Berdasarkan Nota Analisa pemutus kredit Nomor CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 seolah-olah kondisi keuangan debitur menunjukkan perkembangan.

Akhirnya, perusahaan itu bisa memperoleh perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit pada tahun 2015 sebesar Rp 1,170 triliun.

Selain itu, debitur PT TAB juga telah menggunakan uang fasilitas kredit, antara lain, sebesar Rp 73 miliar yang semestinya hanya diperkenankan untuk kepentingan KI dan KMK. Akan tetapi uang tersebut dipergunakan untuk keperluan yang dilarang untuk perjanjian kredit.

Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500