Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat diwawancari soal penggeledahan Lapas Sukamiskin Bandung. Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Diantar Keluarga ke Hotel, Penyuap Hakim Mery Purba Bantah Kabur

Estimasi Baca:
Rabu, 5 Sep 2018 12:30:42 WIB

Kriminologi.id - Hadi Setiawan, salah satu tersangka kasus dugaan suap terkait putusan perkara korupsi di Pengadilan Medan menyerahkan diri pada Selasa, 4 September 2018. Ia membantah melarikan diri.

"Saya enggak kabur. Enggak... enggak seperti itu. Saya enggak kabur pokoknya," ujar Hadi Setyawan setengah berlari usai diperiksa pada Selasa, 4 September 2018 malam.

Hadi diketahui tidak ikut terjaring OTT Tim Satgas KPK di Medan pada Selasa, 28 Agustus 2018. Ia merupakan orang kepercayaan Tamin Sukardi yang juga tersangka kasus ini.

Tamin merupakan terdakwa korupsi penjualan lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN II, yang perkaranya ditangani Merry Purba. Dugaan suap kepada Merry agar Tamin mendapatkan vonis ringan.

Menurut Febri, Hadi menyerahkan diri dengan cara diantar istri dan beberapa anggota keluarganya berada di lobi hotel Sun City Sidoarjo. Penyidik KPK kemudian secara resmi melakukan penangkapan terhadap Hadi Setiawan. Kemudian penyidik langsung membawa Hadi ke bandara untuk diterbangkan ke Jakarta.

Kepada kenyidik KPK, lanjut Febri, Hadi mengatakan tidak memiliki keinginan melarikan diri. Saat dicari KPK ia tengah menyelesaikan urusan keluarga.

"Katanya ada urusan keluarga," ujar Febri.

KPK telah menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus usai melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di PN Medan. Keempat tersangka itu adalah hakim Merry Purba, panitera pengganti Helpandi sebagai tersangka penerima suap, dan Tamin Sukardi dan Hadi Setiawan sebagai tersangka pemberi suap.

Saat itu, hanya Merry Purba, Helpandi, dan Tamin Sukardi yang ditahan KPK. Sementara Hadi Setiawan saat itu masih dalam pencarian karena tak ikut terciduk dalam OTT tersebut.

Usai mengumumkan penetapan tersangka itu, KPK mengimbau kepada Hadi Setiawan yang merupakan orang kepercayaan Tamin Sukardi untuk menyerahkan diri.

Tamin adalah pemilik PT Erni Putra Terari. Dalam perkara itu, Tamin menjadi terdakwa perkara korupsi lahan bekas hak guna usaha (HGU) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II.

Tamin menjual 74 hektare dari 126 hektare tanah negara bekas HGU PTPN II kepada PT Agung Cemara Realty (ACR) sebesar Rp 236,2 miliar dan baru dibayar Rp 132,4 miliar.

Merry diduga menerima total 280 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp 3 miliar terkait dengan putusan perkara tindak pidana korupsi No. perkara 33/pid.sus/TPK/2018/PN.Mdn dengan terdakwa Tamin Sukardi.

Sebelum terjaring OTT, Merry telah menerima pemberian 150 ribu dolar Singapura. Pemberian ini merupakan bagian dari total 280 ribu dolar Singapura yang diserahkan Tamin Sukardi melalui Hadi Setiawan yang merupaman orang kepercayaannya pada 24 Agustus 2018 di Hotel JW Marriot Medan.

KOMENTAR
500/500