Ilustrasi Eni Saragih. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Eni Saragih Ungkap Petinggi Golkar Pengarah Proyek PLTU Riau-1

Estimasi Baca:
Rabu, 29 Ags 2018 19:50:37 WIB

Kriminologi.id - Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Fraksi Golkar Eni Maulani Saragih mengatakan hanya sebagai petugas partai dalam mengawal Proyek PLTU Riau-1. Usai diperiksa KPK, Eni mengatakan telah memberikan keterangan kepada penyidik siapa yang mengarahkan dirinya terkait comitmen fee sebesar 2,5 persen dari Rp 12,6 triliun.

"Semua yang mas dan mba (wartawan) tanyakan sudah saya sampaikan ke penyidik. Mulai dari deal fee dan pihak yang memberikan arahan. Nanti kalau saya sampaikan sedikit, takutnya dipelintirnya yang lain-lain," kata Eni di KPK, Jakarta, Rabu, 29 Agustus 2018.

Eni menegaskan tidak mau jatuh sendiri dalam kasus yang tengah menjeratnya. Oleh karena itu, ia sebisa mungkin memberikan informasi kepada penyidik terkait siapa saja yang terlibat.

"Iya, saya tidak mau jatuh sendiri. Ini karena saya petugas partai. Jadi kalau gitu ya pasti ada perintah dari partai," ujarnya.

Terkait agenda pemeriksaan hari ini, Eni mengaku, ditanya soal pertemuan di balik proyek itu. Selain itu, pemeriksaan menurut Eni berkaitan dengan Idrus Marham.

"Saya kan saksi pak Idrus Marham (diperiksa) terkait pertemuan-pertemuan antara saya dengan pak Sofyan Basir (Dirut Utama PLN) dengan Pak Kotjo," kata dia

"Jadi ya beberapa terkait pertemuan-pertemuan antara saya dengan Pak Sofyan Basir (Direktur Utama PT PLN Persero) dengan Pak Kotjo," ucap Eni.

Eni ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga menerima suap dari Johannes B Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd. Perusahaan itu merupakan salah satu perusahaan di konsorsium proyek PLTU Riau-1.

Proyek PLTU Riau-1 sendiri masuk dalam proyek 35 ribu Megawatt yang rencananya bakal digarap Blackgold, PT Samantaka Batubara, PT Pembangkit Jawa-Bali, PT PLN Batubara dan China Huadian Engineering Co. Ltd.

Dalam perkembangannya, KPK juga menetapkan Idrus Marham sebagai tersangka. Dia diduga menerima janji yang sama dengan Eni, yakni USD 1,5 juta dari Kotjo, bila proyek PLTU Riau-1 jadi dikerjakan perusahaan Kotjo.

Saat mendatangi gedung KPK siang tadi, Eni juga sempat mengungkapkan adanya aliran uang senilai Rp 2 miliar dari pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo ke Munaslub Golkar pada akhir Desember 2017. Kala itu, Eni bertugas sebagai bendahara Munaslub.

"Saya sudah jawab semua soal itu. Kan saya bendahara Munaslub juga. Jadi sudah saya sampaikan (uang senilai Rp 2 miliar ke Munaslub Golkar)," ucap Eni.

KOMENTAR
500/500