Deisti Astriani Tagor, istri ketua DPR Setya Novanto. Foto: Antara

Hadir di Pernikahan Anak Setnov, Direktur RS Medika Dicecar Jaksa KPK

Estimasi Baca:
Senin, 16 Apr 2018 22:45:31 WIB
Direktur Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta, dokter Hafil Budianto Abdulgani mengaku menghadiri pernikahan anak Setya Novanto karena diundang besan mantan ketua DPR tersebut.

Kriminologi.id - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencecar Direktur Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta, dokter Hafil Budianto Abdulgani yang pernah menghadiri pernikahan anak Setya Novanto (Setnov). Terungkap, kehadiran dokter Hafil Budianto Abdulgani karena diundang besan Setnov.

Fakta persidangan ini terungkap di persidangan Obstruction Of Justice atau merintangi proses penyidikan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Senin, 16 April 2018, dengan terdakwa dokter Bimanesh Sutardjo. Menurut dokter Hafil, itu kali pertama dia bertemu dengan Setya Novanto. 

Awalnya JPU KPK Mochammad Takdir Suhan menanyakan soal pernikahan Dwiana yang merayakan Sakramen di Gereja Katedral dan resepsi di hotel di Jakarta Selatan.

"Bisa jelaskan apa kaitan anda kenapa bisa diundang di pernikahan putri kedua Setya Novanto?" tanya JPU KPK, Senin, 16 April 2018 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Hafil pun buru-buru menjelaskan. Ia menyatakan, kehadirannya adalah kolega dari besan Setya Novanto. 

"Iya saya kolega besannya. Saya pernah datang ke acara perniahan putri beliau (Setnov). Saya saat itu diundang oleh pihak besan," kata Hafil.

JPU kemudian mencecar Hafil kembali. "Setelah itu berapa kali anda bertemu Novanto?" tanya JPU.

Hafil mengklaim, pertemuan dengan Setnov hanya terjadi sekali. Selebihnya, Hafil mengatakan, tidak pernah kembali bertemu dan berkomunikasi secara intens atau pun sambil lalu dengan mantan ketua umum Partai Golkar tersebut. 

"Itu pertemuan ‎pertama dan terakhir saya (dengan Setnov)," terang Hafil.

Di sisi lain JPU mencoba mengkonfirmasi pernyataan Hafil tersebut kepada Deistri Astriani Tagor.

"Ibu Deistry pernah bertemu Bapak Hafil? Atau mengundangnya di pernikahan?" tanya JPU KPK.

Istri kedua Setnov pun membantah pernah mengenal Hafil dan mengundangnya. "Saya berani sumpah saya enggak tau Pak. Tapi saya memang ingat pernah bertemu," ujar Deistri.

Setya Novanto dan istri, Deisti Astriani Tagor. Foto: Ist/Kriminologi.id
Setya Novanto dan istri, Deisti Astriani Tagor. Foto: Ist/Kriminologi.id

JPU mencecar kembali mengenai adanya rekomendasi sang besan mempermudah akses perawatan di RS Medika. "Tapi pernah meminta bantuan besan untuk perawatan mungkin?" tanya JPU.

Deistry sekali lagi membantahnya. Dia malah menilai kecelakaan suaminya sebagai insiden serius. Artinya bukan sebuah hal yang direncakanan. "Enggak ada. Suami saya benar sakit. Malah dua hari baru sadarkan diri," ujar Deisti.

Seperti diketahui jaksa KPK meminta kedua saksi tersebut menjelaskan kronologi yang menyeret Bimanesh Sutarjo ke meja persidangan. Sebab saat kerjadian, adanya dugaan merintangi dan menghalangi penyidikan Setnov di RS Medika Permata Hijau, sementara dokter Hafil sedang berada di Malaysia.

‎"(Pada saat kejadian) Saya ada di Melbourne Australia. Sejak tanggal 15 November saya ikut kongres ahli bedah jantung seluruh Asia," kata dokter Hafil.

Pun dengan Deistry yang mengaku tidak mengetahui detail kronologi tersebut. "Saya waktu itu ditelepon rumah sakit katanya Bapak di rawat. Saya juga melihat televisi katanya Bapak kecelakaan dan saya kaget. Itu saja," ujar Deisti.

Dalam perkara ini dokter RS Medika Permata Hijau Jakarta, Bimanesh Sutarjo didakwa Jaksa KPK telah melakukan rekayasa kesehatan mantan Ketua DPR Setya Novanto. Saat itu, Setnov sedang diburu KPK dan Polri karena 'hilang' ketika akan dijemput paksa.

Dokter Bimanesh Sutarjo didakwa melakukan rekayasa medis Setnov bersama‎ dengan mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi.

Atas perbuatannya, Bimanesh didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Reporter: Dimeitri Marilyn
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500