Ilustrasi sidang di Pengadilan Tipikor (08/01/2018). Foto: Dimeitri Marilyn/Kriminologi.id

Istri Penyuap Wali Kota Kendari Sebut Ada Transaksi Miliaran ke PNS

Estimasi Baca:
Rabu, 8 Ags 2018 17:15:42 WIB

Kriminologi.id - Istri terdakwa Direktur PT Sarana Bangun Nusantara Hazmun Hamzah, Yoselin menyebutkan adanya bukti transaksi miliaran rupiah ke pegawai negeri sipil Kota Kendari. Hal itu disampaikan Yoselin saat bersaksi untuk terdakwa Asrun selaku wali kota Kendari periode 2012-2017 dan Adriatma Dwi Putra selaku wali kota Kendari periode 2017-2022.

"Saya tahu setelah Pak Hasmun dibawa ke Kantor Polda pada 26 Februari 2018 ada beberapa bukti transaksi terkait tranfer uang yang dilakukan kepada PNS Kota Kendari," ujar Yoselin di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu, 8 Agustus 2018.

Saat diperiksa di Mapolres Kota Kendari, ia mengaku diberi tahu dua pegawainya yakni Hidayat dan Rini, pernah ada penarikan uang Rp 2,8 miliar. Informasi dari dua tangan kanan suaminya itu mengatakan, transfer dilakukan dua tahap.

"Katanya itu jumlahnya Rp 1,5 miliar diambil dari rekening di Bank Mega, sementara Rp 1,3 miliar diambil dari brankas perusahaan suami saya," kata Yoselin.

Wanita berkulit putih itu menjelaskan, adanya pertemuan yang dilakukan suaminya dengan sepupu Adriatma, yakni Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Kendari Fatmawati Faqih. Pertemuan itu disebut kerap kali terjadi antara Fatmawati dengan Hazmun Hamzah.

"Sudah beberapa kali sepertinya, tapi tepatnya saya tidak ingat tanggalnya karena laporan dari anak buahnya.  Fatmawati pernah menyuruh Hidayat untuk mengirimkan uang ke sejumlah pihak yang tidak diketahui," ujar Yoselin.

Dalam ingatan Yoselin, di persidangan pernah ada PNS Kendari, yakni Laode Martin yang menitipkan uang Rp 4 miliar kepada suaminya. Uang tersebut dititipkan secara bertahap sebanyak empat kali. 

"Laporan anak buah suami saya juga sudah empat kali. Sekali saya pernah ketemu juga di kantor suami saya. Tapi saya tidak ingat persisnya," ucap Yoselin.

Kepada Majelis hakim dan Jaksa Penuntut Umum KPK, Yoselin mengatakan, pernah menanyakan kepada Hidayat siapa yang bawa uang. Namun ia tak tahu ada uang titipan dan siapa yang membawa uang tersebut.

Yoselin kemudian menegaskan jumlah uang yang diberikan suaminya tersebut sekitar Rp 4 Miliar. "Kalau waktu itu katanya Rp 4 Miliar dari suami saya Hazmun kepada Asrun melalui Fatmawati," ujar Yoselin.

Wali Kota Kendari Adriatma DP dan Cagub Sultra Asrun memakai rompi tahanan KPK. Foto: Dimeitri/Kriminologi.id
Wali Kota Kendari Adriatma DP dan Cagub Sultra Asrun memakai rompi tahanan KPK. Foto: Dimeitri/Kriminologi.id

Jaksa kemudian menanyakan peruntukkan uang tersebut kepada Yoselin. Namun, ia mengaku tidak mengetahui peruntukkan uang tersebut.

"Untuk masalah itu suami saya tidak pernah terbuka," ujarnya.

Jaksa KPK kemudian membacakan dakwaan uang yang diduga diberikan Asrun. Saat menjabat wali kota, Asrun menunjuk Hazmun mendapatkan jatah proyek di Pemkot Kendari. Proyek yang dimaksud yakni proyek multiyears pembangunan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari.

Proyek tersebut, kata JPU KPK menggunakan anggaran tahun 2014-2017. Selain itu, proyek pembangunan Tambat Labuh Zona III Taman Wisata Teluk (TWT)-Ujung Kendari Beach. Proyek itu menggunakan anggaran tahun 2014-2017.

"Setiap transaksi yang dilakukan Asrun melibatkan keponakannya Fatmawati Faqih," ujar Jaksa KPK

Yoselin menyebut, selalu ada fee atau timbal balik berupa uang di balik setiap proyek di Kendari, Sulawesi Tenggara. Komisaris PT Bangunan Inti Jaya itu mengaku tahu tentang hal itu dari suaminya, Hazmun Hamzah.

Hazmun merupakan mantan Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara. Omongan Hazmun ke Yoselin bukan isapan jempol karena Hasmun pun memberikan fee untuk proyek yang ada di Kendari hingga akhirnya ditetapkan KPK dan divonis 2 tahun penjara.

Hazmun divonis bersalah memberikan suap Rp 6,7 miliar ke ayah dan anak, Asrun dan Adriatma Dwi Putra. Saat itu, Asrun merupakan calon gubernur Sulawesi Tenggara, sedangkan Adriatma menjabat sebagai wali kota Kendari. 

Reporter: Dimeitri Marilyn
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500