Keponakan Setnov Sembunyikan Uang Korupsi E-KTP Dengan Barter Sistem

Estimasi Baca :

Mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera yang juga keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (9/3).  - Kriminologi.id
Mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera yang juga keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (9/3).

Kriminologi.id - Transaksi keuangan yang dilakukan oleh keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, terkait kasus korupsi pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik atau e-KTP terindikasi sebagai tindak pidana pencucian uang. Hal tersebut dikatakan oleh mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK, Yunus Husein. 

"Modus-modus yang disampaikan itu mengindentifikasikan sebagai bagian dari 'laundering' atau menyamarkan harta yang dipakai melalui beberapa transaksi," kata Yunus di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Baca: Pakai Rekening Karyawannya, Trik Keponakan Setnov Tampung Uang E-KTP

Dalam persidangan tersebut, Yunus dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum KPK sebagai saksi ahli untuk terdakwa Setya Novanto yang didakwa merugikan keuangan negara hingga Rp 2,3 triliun dari total anggaran proyek e-KTP sebesar Rp 5,9 triliun.

Terkait peranan keponakan Setya Novanto, di sidang-sidang sebelumnya para saksi mengungkapkan ada uang sebesar US$ 3,5 juta yang didapatkan Irvanto saat masih menjabat sebagai direktur PT Murakabi Sejahtera, sebuah perusahaan yang ikut dalam tender e-KTP.

Irvanto sendiri memperoleh uang proyek e-KTP melalui system barter. Caranya, Irvanto mendatangi money changer untuk menukarkan uang dolar AS dari luar negeri menjadi dolar AS yang diterima di dalam negeri. 

Setelah itu, petugas money changer tersebut menghubungi rekan-rekannya sesama money changer di Indonesia maupun luar negeri, untuk selanjutnya ditransfer ke masing-masing money changer di luar negeri dan di Indonesia tanpa perlu uang itu melintasi batas negara.

Baca: Keponakan Jadi Tersangka e-KTP, Setnov: Gak Ada Urusan Sama Saya!

Transaksi tersebut terjadi pada medio Desember 2011 sampai Februari 2012.  Adapun salah satu yang terlibat dalam transaksi tersebut berasal dari rekening PT Biomorf Mauritius di Mauritius, Afrika Timur.

"Mauritius termasuk high risk country dalam rangka pencucian uang. Penggunaan money changer juga suspicious atau mencurigakan. Bank-bank asing tidak mau mengirim uang ke rekening money changer jadi banyak pemilik money chnager membuat rekening atas nama pemiliknya,” kata Yunus.

“Apalagi ini ada transaksi tunai yang susah dilacak untuk menghindari rezim pencucian uang. Jadi, ada indikasi ingin menutupi sesuatu."

Yunus menambahkan, skema yang digunakan oleh Irvanto itu disebut mulitalteral setting. Artinya, ada kreditior di luar negeri dan perusahaan debitur di luar negeri yaitu Biomorf Mauritius yang membayar uang ke dalam negeri, kemudian diterima oleh debitor dengan mengajukan uang keluar negeri dan kreditur yang menerima uang dari Biomorof tersebut.

Baca: Kode Miras Setya Novanto untuk Pembagian Upeti ke Relasinya di Senayan

"Utang piutang biasanya hanya dua pihak saja. Tapi ini complicated sehingga alurnya sudah direncakanan. Transaksinya tidak begitu saja menerima sumber dana langsung dari sumbernya dengan modus misuse of legitimate business yaitu menyalahgunakan usaha-usaha besar untuk multilateral set off, transaksi yang tidak melalui crossborder," ujar Yunus.

Agar suatu perbuatan menjadi tindak pidana pencucian uang, menurut Yunus, juga tidak perlu memenuhi seluruh unsur yaitu menempatkan atau placement, layering atau memutar-mutar uang sehingga menjauhkan dari dirinya dan integration atau menikmati harta.

"Tidak harus proses ini selesai, bisa saat masih layering sudah tertangkap sesuai rumusan Pasal 3 UU Pencegahan TPPU. Tidak perlu kumulatif, karena satu saja sudah cukup atau memenuhi," ujar Yunus.

Baca: Keponakan Setya Novanto Ditahan Usai Diperiksa KPK Soal E-KTP

Sebelumnya, dalam dakwaan Setnov disebutkan menerima uang US$ 7,3 juta melalui rekannya Made Oka Masagung, yang juga pemilik OEM Investmen Pte.LTd dan Delta Energy Pte.Lte yang berada di Singapura sebesar US$ 3,8 juta. 

Uang tersebut ditransfer melalui rekening OCBC Center branch atas nama OEM Investmen Pte Ltd yang jumlahnya sebesar US$ 1,8 juta. Kemudian melalui rekening Delta Energy Pte Ltd di bank DBS Singapura Senilai US$ 2 juta. 

Tak hanya itu, Setnov juga didakwa menerima uang dari mantan direktur PT Murakabi Sejahtera, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo pada 19 Januari sampai Februari 2012. Uang dari keponakannya itu seluruhnya berjumlah US$ 3,5 juta. Dalam kasus ini, Irvanto sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dan ditahan sejak 9 Maret 2018. TD

Baca Selengkapnya

Home Hard News Korupsi Keponakan Setnov Sembunyikan Uang Korupsi E-KTP Dengan Barter Sistem

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu