Ilustrasi Setnov terkait kasus eKTP. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kisah Kedekatan Setnov dengan Made Oka Massagung Selama 22 Tahun

Estimasi Baca:
Rabu, 5 Sep 2018 05:35:22 WIB

Kriminologi.id - Istri mantan Ketua DPR Setya Novanto, Deisti Astriani Tagor menjadi saksi untuk keponakan suaminya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Deisti mengungkap, hubungan personal antara Made Oka Massagung dengan Setya Novanto sudah terjadi sekitar dua dekade lebih atau tepatnya selama 22 tahun.

Hubungan Made Oka Massagung dengan Setya Novanto adalah kolega bisnis. Penuturan Deisti tersebut diungkapkan dalam sidang dengan terdakwa Irvanto dan Made Oka di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Selasa, 4 September 2018.

"Perkenalan Pak Made Oka dan Suami saya terjalin sejak 22 tahun lalu, yang saya pernah dengar dulu waktu baru nikah tahun 1996. Katanya, "Made Oka Teman saya. Ada hubungan bisnis. Kolega bisnis," katanya," kata Deisti Astriani Tagor.

Deisti kemudian dicecar JPU KPK pada 1996 tersebut, perihal bentuk bisnis antara Setya Novanto dan Made Oka Massagung. "Bu Deisti bisa terangkan soal bentuk bisnis antara suami anda dan Made Oka," tanya JPU KPK.

Namun Deisti mengaku tidak tahu jenis bisnis yang dijalani antara suami dengan Made Oka Massagung. "Maaf Pak saya tidak tahu," ucap Deisti.

JPU kembali mencecar Deisti terkait hubungan bisnis tersebut terkait dengan usaha toko buku tempat kerja Made Oka Massagung terdahulu. "Apa terkait toko buku Gunung Agung?" tanya JPU KPK.

Dok. Made Oka Masagung. Foto: Antara
Dok. Made Oka Masagung. Foto: Antara

Deisti mengaku tidak yakin, apakah hubungan Setnov dengan Made Oka Massagung saat masih mengelola Toko Buku Gunung Agung. "Iya mungkin, karena dia kan memang punya jabatan di sana kalau tidak salah," ucap Deisti

Dalam kasus ini, Made Oka Masagung dan Irvanto didakwa menjadi perantara uang suap untuk mantan Ketua Fraksi Partai Golkar, Setya Novanto.

Made Oka diduga terlibat dalam kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) tahun 2011-2013.

Made Oka dan Irvanto juga didakwa merekayasa proses lelang dalam proyek pengadaan e-KTP. Irvan juga didakwa menjadi perantara suap untuk sejumlah anggota DPR RI.

Irvan disebut beberapa kali menerima uang dari Johannes Marliem selaku penyedia produk biometrik merek L-1 yang seluruhnya berjumlah 3,5 juta dollar Amerika Serikat. Menurut jaksa, uang tersebut disebut sebagai fee sebesar 5 persen untuk mempermudah pengurusan anggaran e-KTP.

Sementara, Made Oka dan Irvanto juga didakwa merekayasa proses lelang dalam proyek pengadaan e-KTP. Irvan juga didakwa menjadi perantara suap untuk sejumlah anggota DPR RI.

Selain memperkaya Setya Novanto, perbuatan Irvan dan Made Oka diduga telah memperkaya sejumlah orang dan korporasi. Perbuatan yang dilakukan bersama-sama itu telah mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 2,3 triliun. 

Reporter: Dimeitri Marilyn
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500