Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap berjalan ke luar gedung KPK. Foto: Dimeitri Marylin

KPK Dalami Aliran Dana Suap Pangonal Harahap

Estimasi Baca:
Selasa, 31 Jul 2018 21:05:19 WIB

Kriminologi.id - Dugaan aliran dana suap Bupati Labuhanbatu nonaktif Pangonal Harahap sedang didalami Komisi Pemberantasan Korupsi. Dugaan suap tersebut terkait proyek-proyek di lingkungan Kabupaten Labuhanbatu, Sumatra Utara, pada tahun anggaran 2018.

Pendalaman tersebut telihat dari pemeriksaan dua saksi untuk tersangka Effendy Sahputra. Yakni, Thamrin Ritonga dari unsur swasta dan Kabag Keuangan dan Program RSUD Rantauprapat Abner Sitanggang.

"KPK mengonfirmasi pengetahuan para saksi terkait dengan uang yang diduga untuk menyuap bupati," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Selasa, 31 Juli 2018.

Ia menjelaskan, Thamrin diperiksa mengenai peran dan kerja samanya dengan tersangka Effendy Sahputra terkait dengan proyek serta hubungan saksi dengan Pangonal saat menjadi tim sukses sebelumnya.

Dalam kasus itu, KPK telah menetapkan empat tersangka, yakni Pangonal Harahap (PHH), Umar Ritonga (UMR) yang merupakan orang dekat Pangonal Harahap, dan pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi Effendy Sahputra (ES).

Namun, untuk tersangka Umar Ritonga sampai saat ini belum ditemukan dan telah masuk daftar pencarian orang (DPO).

Sebelumnya, penyidik KPK telah menemukan mobil yang diduga dibawa Umar Ritonga yang melarikan diri membawa uang di Labuhanbatu saat tangkap tangan dilakukan.

Mobil tersebut ditemukan di dekat kebun sawit dan hutan di Labuhanbatu.

"Ketika mobil ditemukan, ban sudah dalam keadaan kempes dan tidak laik jalan. Kami duga mobil tersebut awalnya mobil pelat merah yang diganti menjadi pelat hitam ketika digunakan UMR mengambil uang di BPD Sumut," ucap Febri.

Umar melarikan diri saat OTT KPK pada Selasa, 17 Juli 2018 di depan Kantor BPD Sumut. Umar adalah orang yang ditugaskan oleh Pangonal untuk mengambil uang Rp 500 juta dari petugas bank.

Selain itu, KPK juga sedang melakukan pencarian terhadap saksi Afrizal Tanjung, Direktur PT Peduli Bangsa yang diduga berperan dalam pencairan cek di BPD Sumut.

Afrizal adalah orang yang menarik cek Rp 576 juta dari pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi Effendy Sahputra.

KPK menduga Pangonal menerima Rp 576 juta dari Effendy Sahputra terkait dengan proyek-proyek di lingkungan kabupaten Labuhanbatu, Sumut pada TA 2018 senilai Rp 576 juta yang merupakan bagian dari pemenuhan dari permintaan Bupati sekitar Rp 3 miliar.

Sebelumnya, pada Juli 2018 diduga telah terjadi penyerahan cek sebesar Rp 1,5 miliar. Namun, cek tersebut tidak berhasil dicairkan.

Tersangka pemberi suap adalah Effendy Sahputra yang disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Tersangka penerima suap adalah Pangonal Harahap dan Umar Ritonga. Mereka disangkakan melanggar Pasal 12 Huruf a atau Huruf b atau Pasal 11 UU No. 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20/2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-l KUHP.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500