Bupati Kutai Kertanegara, Rita Widyasari tiba di gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan (10/10/2017), Foto: Dimeitri Marilyn/Kriminologi.id

KPK Eksekusi Rita Widyasari ke Lapas Pondok Bambu

Estimasi Baca:
Jumat, 3 Ags 2018 14:45:59 WIB

Kriminologi.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeksekusi Rita Widyasari ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Pondok Bambu. Bupati nonaktif Kutai Kertanegara itu dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dalam perkara penerimaan suap dan gratifikasi. 

"Telah dilakukan eksekusi terhadap RIW (Rita Widyasari) ke Lapas Perempuan Pondok Bambu sejak Juli 2018," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Jumat, 3 Agustus 2018.

KPK mengeksekusi Rita setelah putusan berkekuatan hukum tetap. Baik Rita maupun Jaksa KPK tidak menyatakan banding atas vonis yang telah dijatuhkan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Pada 6 Juli 2018 lalu, Pengadilan Tipikor Jakarta memvonis Rita Widyasari selama 10 tahun penjara ditambah denda Rp 600 juta subsider 6 bulan kurungan karena terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp 110.720.440.000 dan suap Rp 6 miliar dari para pemohon izin dan rekanan proyek.

Rita juga masih menjadi tersangka tindak pidana pencucian uang yang ditangani KPK. "Sedangkan penyidikan dugaan TPPU (tindak pidana pencucian uang) masih terus dilakukan KPK," ujar Febri.

Vonis yang diterima Rita tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa yakni 15 tahun penjara dan denda Rp 750 juta subsider enam bulan kurungan. Hakim juga melakukan pencabutan hak politik Rita selama 5 tahun setelah menjalani hukuman.

Menurut hakim, Rita terbukti menerima gratifikasi dan suap terkait proyek-proyek di lingkungan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Suap diterima bersama Komisaris PT Media Bangun Bersama, Khairudin selaku tangan kanan Rita Widyasari.

Selain Rita, majelis hakim juga menjatuhkan vonis bagi Khairudin. Ia dihukum 8 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider 3 bulan penjara. Selain itu, hak politik Khoirudin juga dicabut selama lima tahun setelah menjalani hukuman. RZ

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500