Dok. Made Oka Masagung. Foto: Antara

Manajer HP Indonesia Mengaku 3 Kali Bertemu Setnov dan Made Oka 

Estimasi Baca:
Selasa, 7 Ags 2018 14:57:08 WIB

Kriminologi.id - Salah satu saksi dalam kasus e-KTP Manager Country Enterprises Hewlett Packard (HP), Charles Sutanto Ekapradja mengatakan pernah dilibatkan dalam proyek e-KTP senilai Rp 5,9 triliun. Ia mengaku pernah tiga kali melakukan pertemuan dengan Setya Novanto.

Fakta persidangan ini tergali saat Ketua Majelis Hakim Yanto saat menanyakan awal mula Charles bisa terlibat dalam proyek ini. Charles pun menjawab pertemuan itu dijembatani Made Oka Masagung, rekan Setya Novanto sekaligus terdakwa kedua kasus e-KTP.

"Saya tanya dulu kapan anda kenal dengan Irvanto?" tanya Hakim Yanto.

Charles menceritakan, pertemuan bemula pada 2010. Saat itu Ia ditawari almarhum Johannes Marliem ikut serta dalam proyek e-KTP. 

"Saya dengar waktu itu di surat kabar kalau pemerintah mau buat program KTP elektronik. Saya berminat saja waktu itu. Saya lalu bertanya kepada Pak Johannes Marliem mencari tahu informasi proyek itu," kata Charles.

Menurut Charles, Johannes lalu menyarankan untuk menanyakan kepada Made Oka dengan pertimbangan dianggap memiliki banyak relasi. Singkat cerita, Charles akhirnya bertemu dengan Made Oka Masagung.

Made kemudian mengundang Charle ke rumah Setya Novanto di Jalan Wijaya XIII No.19, Kebayoran Baru. Charles pun menyanggupi pertemuan tersebut.

Pada pertemuan pertama di rumah pribadi Setya Novanto di Jalan Wijaya itu dihadiri tiga orang. Tiga orang itu adalah Made Oka Masagung, Setya Novanto dan Charles. Dalam pertemuan tersebut, Charles mempromosikan produk HP.

"Saya kemudian di ditanya HP itu apa. Kita jelaskan HP mengerjakan pencatatan data. Kemudian enggak lama sih terus seingat saya Pak Nov sama Pak Oka ke ruangan lain," ujar Charles.

Charles menjabarkan perihal pertemuan selanjutnya yang dilakukan di ruang kerja Setya Novanto di lantai 12 Gedung DPR. Pada pertemuan keduaitu, Made Oka mengajak Charles makan siang di Gedung DPR setelah itu barulah menemui Setya Novanto.

Jaksa Penuntut Umum Eva Yustisia kemudian menanyakan pembicaraan makan siang tersebut. "Setelah ketemu sama Pak Novanto sudah ada pembicaraan fee dari anggaran proyek Rp 5,9 T itu?" tanya Eva Yustisia.

Namun pertanyaan JPU dibantah Charles. "Belum ada pembicaraan soal fee atau profit yang dibicarakan. Hanya rekomendasi soal produk HP saja," ucap Charles.

Selang dua pekan sejak pertemuan kedua tersebut Made Oka Masagung kemudian menghubungi Charles. Telepon dari Made Oka tersebut tentu saja disambut Charles.

"Dia bilang Pak Novanto mau bertemu dengan saya lagi. Kemudian kita set pertemuan di hari esoknya. Kita berangkat ke rumah Pak Novanto,"ujar Charles.

Tiba di tempat pertemuan itu, rupanya Charles tak sendiri. Ada beberapa pengusaha yang juga sudah datang di lokasi pertemuan. Mereka adalah Paulus Tannos, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo dan sejumlah pihak swasta lainnya.

"Saya tidak ingat berapa orang tapi ada beberapa orang. Ada enam atau tujuh orang gitu. Yang saya ingat Pak Irvanto dan Pak Paulus Tannos dan Pak Made Oka," tutur Charles.

JPU Eva kembali mencecar Charles. "Apa yang dibicarakan pertemuan itu?" tanya jaksa Eva Yustisiana.

Pembicaraan tersebut, Charles mengaku, memperkenalan produk HP dan visi misi tujuan pihak swasta yang berminat ikut proyek E-KTP.

"Bahasanya kita tuh permission meeting, ramah tamah lah," ujarnya.

Jaksa kemudian menanyakan soal lelang proyek pada Charles. Namun, buru-buru dipotong Charles karena pada pertemuan tersebut belum ada pembicaraan khusus soal lelang proyek.

"Belum ada pembicaraan lelang proyek di sana. Masih pembicaraan apa yang kita harapkan dan keunggulan dari perusahaan kami masing-masing," katanya.

Sebagai informasi pada kasus e-KTP tersebut terdakwa pertama yakni Irvanto Hendra Pambudi adalah pihak ketujuh yang dinyatakan bertanggung jawab atas bocornya anggaran proyek e-KTP. Sementara Made Oka Masagung merupakan tersangka kedelapan proyek e-KTP.

Kedua orang ini dijadikan tersangka karena ikut membantu Setya Novanto menerima uang. Made Oka Masagung terbukti menerima uang berjumlah USD 3.800.000 melalui rekening OCBC Center Branch atas nama OEM Investment, PT, Ltd. Kemudian kembali ditransfer sejumlah USD 1.800.000 melalui rekening Delta Energy, di Bank DBS Singapura, dan sejumlah USD 2.000.000.

Sementara melalui Irvanto dalam rentang waktu 19 Januari-19 Februari 2012 seluruhnya berjumlah USD 3.500.000. Sehingga total uang yang diterima terdakwa baik melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo maupun melalui Made oka Masagung seluruhnya berjumlah USD 7.300.000. (Dimeitri Marilyn)

Reporter: Dimeitri Marilyn
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500