Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud berada di dalam mobil tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Rabu (16/5). Foto: Antara

Proyek Jalan dan Jembatan Jerat Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud

Estimasi Baca:
Kamis, 17 Mei 2018 15:10:47 WIB

Kriminologi.id - Bupati Bengkulu Selatan, Dirwan Mahmud, disebut Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK terlibat dalam kasus suap di lima proyek pekerjaan infrastruktur di wilayah Bengkulu Selatan untuk tahun anggaran 2018.

Dari hasil pemeriksaan KPK, lima proyek yang menjerat Dirwan Mahmud antara lain proyek normalisasi atau pengerasan Jalan Telago Dalam menuju Cinto Mandi Kecamatan Pino Raya, proyek peningkatan jalan Desa Tanggo Raso dari arah jembatan dua Kecamatan Pino Raya, proyek Jalan Rabat Beton Desa Napal melintang Kecamatan Pino Raya.

Selanjutnya, proyek Jalan Rebat Beton Desa Pasar Pino (Padang Lakaran) Kecamatan Pino Raya dan proyek rehabilitasi Jembatan Gantung Desa Telaga Dalam Kecamatan Pino Raya. Diduga sebagai penerima yaitu Dirwan, Hendrati, dan Nursilawati, sedangkan diduga sebagai pemberi, yakni Juhari.

Dalam kasus ini, KPK tak hanya menangkap Dirwan. Turut diamankan pada Rabu malam, 16 Mei 2018 sebanyak tiga tersangka lainnya yakni Hendrati istri dari Dirwan Mahmud, Kasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan, Nursilawati yang juga keponakan dari Dirwan. Terakhir, Juhari dari unsur swasta.

“Empat tersangka tersebut diduga memberi dan menerima suap sebagai bagian dari komitmen fee 15 persen dari lima proyek di Bengkulu Selatan,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di Jakarta, Kamis, 17 Mei 2018.

Sebagai penerima suap, Dirwan diduga mdanpat jatah Rp 98 juta yang merupakan bagian dari 15 persen komitmen fee yang telah disepakati sebagai setoran kepada Bupati atas lima proyek penunjukan langsung pekerjaan infrastruktur jalan dan jembatan yang dijanjikan di Pemkab Bengkulu senilai total Rp 750 juta dari komitmen fee sebesar Rp 112,5 juta.

Uang tersebut diberikan Juhari yang telah menjadi mitra dan mengerjakan proyek sejak 2017 di lingkungan Pemkab Bengkulu Selatan. Pada 12 Mei 2018 sebesar Rp 23 juta diberikan secara tunai dari Nursilawati kepada Hendrati. Kemudian oleh Hendrati sebesar Rp 13 juta dimasukkan ke rekeningnya di Bank BNI dan sisanya Rp 10 juta disimpan tunai oleh Nursilawati.

Selanjutnya, pada 15 Mei 2018 sebesar Rp 75 juta diberikan Juhari secara tunai kepada Hendrati melalui Nursilawati di rumah Hendrati. Adapun Dirwan Mahmud di Rutan KPK ditahan di C1 atau gedung KPK lama, Juhari di Rutan Cabang KPK yang berada di belakang gedung Merah Putih KPK serta Hendrati dan Nursilawati di Rutan Polres Jakarta Selatan.

Penulis: Tito Dirhantoro
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500