Dokter Bimanesh Sutarjo menunggu diperiksa di gedung KPK, Jakarta (12/1/2018). Foto: Antara Foto

Saksi Sidang Bimanesh Ditanya Bagaimana Tandanya Pura-pura Pingsan

Estimasi Baca:
Jumat, 18 Mei 2018 15:40:35 WIB

Kriminologi.id - Persidangan perkara merintangi penyidikan dengan terdakwa Bimanesh Sutardjo menghadirkan saksi dokter Jose Roesma yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam (internist). Kehadiran dokter spesialis penyakit dalam itu untuk memberi pendapat kondisi Setya Novanto yang disebut pingsan usai mengalami kecelakaan tunggal dan dirawat di RS Medika Permata Hijau.

"Pak Jose saya mau tanya nih, bagaimana perbedaaan antara pingsan pura-pura dan pingsan yang sesungguhnya?," tanya JPU KPK Mochammad Takdir Suhan dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Jumat, 18 Mei 2018.

Atas pertanyaan itu, Jose mengatakan bahwa prosedur yang umum ditemukan adalah mata pasien biasanya berwarna dominan putih bila seseorang yang pingsan sesungguhnya, Sementara bila pingsan tersebut direkayasa, maka akan terlihat dari ujung mata yang mengeluarkan air serupa air mata.

"Banyak tanda-tandanya adalah bila di pukul tak ada reaksi apa-apa. Kalau masih terasa sakit artinya tingkat kesadarannya tinggi. Biasanya bagian lapis pada mata akan berwarna dominan putih kalau asli pingsan. Kalau bohong ada reaksi serupa air matanya dipenguhujung matanya. Dan masih ada reaksi saat di tampar," ucap Jose menerangkan.

Atas jawaban saksi itu, jaksa kembali mencecar Bimanesh mengenai mekanisme tersebut dan menanyakan tanda apa yang ditemukan pada Setya Novanto saat dilarikan ke RS Medika Permata Hijau.

"Kalau Pak Novanto waktu itu gimana?," tanya Jaksa kepada Bimanesh.

Bimanesh mengatakan, saat itu dia tidak begitu memperhatikan reaksi yang ditimbulkan oleh Setya Novanto. Hal tersebut karena banyaknya petugas medis yang mengitari mantan Ketua DPR itu di rumah sakit.

"Tidak begitu ingat. Yang saya ingat Pak Novanto itu pingsan, Pak," ucap Bimanesh.

Dalam persidangan kali ini, Jaksa juga menanyakan lagi kepada Jose mengenai aturan jika dokter ahli merawat pasien yang buron. Jaksa bertanya, bagaimana dokter mengetahui pasiennya benar-benar pingsan atau tidak saat pemeriksaan termasuk apakah hipertensi bisa direkayasa.

Jose menjelaskan, bila prosedur dalam sumpah jabatan kedokteran tidak bisa memilih akan merawat pasien yang terjerat kasus hukum atau yang bebas dari kasus hukum.

Hanya saja, kata Josen, prosedur penanganan pasien yang bermasalah kasus hukum biasanya harus disertakan anggota tim penyidik yang menjaga pasien tersebut.

"Dalam sumpah jabatan tidak bisa Pak bila kami harus memilih pasien yang tidak bermasalah hukum saja. Yang bermasalah diabaikan. Itu tidak boleh pandang bulu untuk itu. Tapi yang biasanya dilakukan kalau bermasalah harus ada pendampingan penyidik," ucap Jose.

Bimanesh dan Fredrich Yunadi didakwa bersama-sama merintangi atau menghalang-halangi penyidikan yang dilakukan oleh KPK terhadap kasus dugaan korupsi e-KTP yang menjerat Setya Novanto.

Mereka diduga bekerja sama memasukkan Setya Novanto ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau dan merekayasa sakitnya agar lolos dari proses hukum kasus e-KTP di KPK.

Kejadian tersebut terjadi setelah Setya Novanto dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal tidak jauh dari rumah sakit tersebut pada 16 November 2017.

Atas perbuatannya, Bimanesh dan Fredrich didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. RZ

Reporter: Dimeitri Marilyn
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500