Setnov dipindahkan ke Rutan Kelas I Sukamiskin. Foto:Dimeitri Marilyn/Kriminologi.id

Setnov Hipertensi Sebelum Kecelakaan, Dokter: Itu Bisa Direkayasa

Estimasi Baca:
Jumat, 18 Mei 2018 14:45:19 WIB

Kriminologi.id - Terpidana kasus korupsi E-KTP, Setyo Novanto diketahui sempat hipertensi sebelum mengalami insiden kecelakaan yang menimpanya di Jalan Permata Berlian 1, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Sabtu 18 November 2017 sekitar pukul 15.42 WIB. 

Fakta demikian diketahui dalam persidangan terdakwa Bimanesh Sutarjo, dokter RS Medika Permata Hijau yang kini dijerat kasus merintangi penyidikan KPK dalam kasus E-KTP. Bimanesh Sutarjo didakwa bersama dengan kuasa hukum Setnov saat itu yakni Fredrich Yunadi. 

Walau begitu, saksi ahli untuk terdakwa Bimanesh Sutarjo yang juga ahli penyakit dalam dan hipertensi, dokter Jose Roesma, menyebut hipertensi atau tekanan darah tinggi itu dapat direkayasa. Caranya, dengan mengonsumsi obat-obat tertentu bahkan narkoba. 

"Hipertensi memang bisa direkayasa, makan obat saja pak, obat amfetamin, pakai shabu atau segala macam, bisa naik tensinya," kata Jose dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi atau Tipikor Jakarta, Jumat, 18 Mei 2018. 

Dalam dakwaaan menyebut, Bimanesh merupakan dokter yang dipesan Fredrich Yunadi untuk memeriksa Setnov di RS Medika Permata Hijau dengan keluhan hipertensi. Namun belakangan Setnov mengalami kecelakaan. Meski begitu, Setnov tetap dilarikan ke RS Permata Hijau untuk diperiksa oleh dokter Bimanesh Sutarjo.

"Misalnya ada obat batuk atau obat tetes hidung untuk membuat pembuluh darahnya menciut supaya hidungnya bisa lebih lega, itu bisa membuat hipertensi, jadi tergantung niatnya bagaimana, makan amfetamin itu menaikkan tensi, malah orang yang tensinya rendah kalau kita kasih epinephrine (obat alergi) jadi bisa direkayasa," ujar Jose.

Namun menurut Jose, agar hipertensi bisa benar-benar terjadi, obat-obatan tersebut harus dikonsumsi secara berkelanjutan. Namun, tidak ada ukuran seberapa besar bagi orang-orang yang mengkonsumsi obat hipertensi itu dapat mempengaruhinya.

"Tiap sebentar (dikonsumsi) harus ditambah lagi, jadi bisa direkayasa," tutur Jose.”Tidak ada ukuran pastinya, tergantung sensitivitas yang bersangkutan apalagi kalau dia ada bakat hipertensi dikasih obat itu bisa naik tensinya." 

Dokter pun dapat mengetahui seseorang benar-benar pingsan atau hanya pura-pura pingsan. Misalnya, dengan cara mencubitnya. Jika bereaksi itu menunjukkan refleksnya masih jalan. 

“Atau kita buka matanya kemudian kita senter dia beregerak atau tidak, banyak tanda tanda kedokteran yang bisa menentukan orang ini benar pingsan atau tidak, masih bereaksi atau tidak," ungkap Jose.

Jaksa menanyakan hal itu mengingat saat tiba di RS Medika Permata Hijau, Setnov dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tak hanya itu, Setnov juga tidak bisa mengingat peristiwa yang terjadi kepadanya setelah mengalami kecelakaan di daerah Permata Hijau. 

Penulis: Tito Dirhantoro
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500