Setya Novanto dalam persidangan kasus e-KTP di PN Jakarta Selatan. Dimeitri Marilyn/Kriminologi.id

Setnov Wajib Kembalikan US$ 7,3 Juta, Jam Richard Mille Tidak Diminta

Estimasi Baca:
Selasa, 24 Apr 2018 18:00:27 WIB

Kriminologi.id - Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi Jakarta memvonis Setya Novanto dengan pidana tambahan membayar uang pengganti sebesar US$ 7,3 juta disamping pidana utama 15 tahun penjara dan denda Rp 500 juta. 

Dalam amar putusan, majelis hakim mengatakan perbuatan Setnov telah memenuhi unsur menguntungkan diri sendiri, merugikan keuangan negara, menyalahgunakan wewenang, dan dilakukan bersama-sama pihak lain dalam proyek e-KTP. Novanto dianggap memperkaya diri sendiri sebanyak US$ 7,3 juta dari proyek e-KTP.

Lalu apa yang menjadi pertimbangan hakim agar Novanto mengembalikan duit US$ 7,3 juta tersebut?

Anggota majelis hakim Tipikor, Anwar mengatakan uang pengganti yang dibebankan berdasarkan pembuktian duit yang diterima Setnov melalui perantara suap yakni, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo sebesar US$ 3,5 juta dan dari Made Oka Masagung sebesar US$ 3,8 juta.  

Irvanto merupakan keponakan Novanto sendiri sekaligus Direktur PT Murakabi Sejahtera, salah satu peserta konsorsium proyek e-KTP. Sementara Made oka adalah rekan Setnov, pemilik PT OEM Investment. Made Oka diduga menjadi perantara jatah proyek e-KTP sebesar 5 persen bagi Setya Novanto melalui kedua perusahaan miliknya. T

Total dana yang diterima Made Oka berjumlah US$ 3,8 juta yang diteruskan kepada Setnoc. Pertama, melalui perusahaan OEM Investment menerima 1,8 juta dollar AS dari Biomorf Mauritius, perusahaan asing yang menjadi salah satu penyedia produk biometrik merek L-1.

Produk tersebut digunakan dalam proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP). Kemudian melalui rekening PT Delta Energy sebesar US$ 2 juta.

"Terdakwa menerima fee berasal dari Anang Sugiana Sudiharjo dengan cara untuk menerbitkan invoice seolah-olah membeli AFIS merek L-1 dari Johannes Marliem dengan total US$ 3,8 juta atas perintah terdakwa karena sudah ada kesepakatan. Oleh karena itu, US$ 3,8 juta harus jadi tanggung jawab dan dibebankan kepada terdakwa," kata Hakim Anwar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa, 24 April 2018.

Dari keponakannya, Novanto menerima sebesar US$ 3,5 juta, yang diputar melalui transaksi barter melalui money changer.

Meski keterangan tersebut dibantah oleh Irvan, hakim yakin uang tersebut diperuntukan Setya Novanto. Sebab, hakim mendengar keterangan keterangan anak buah Riswan alias Iwan Barala yang pernah mengantar uang barter ke Irvanto. Uang tersebut diyakini diperuntukan ke anggota DPR dan tak lain adalah Setya Novanto.

"Sehingga terdakwa dibebankan US$ 7,3 juta dikurangi Rp 5 miliar yang telah dititipkan terdakwa ke penyidik sebagai uang pengembalian," kata Anwar.

Meski diminta mengembalikan kerugian sebesar US$ 7,3 Juta, Setnov tak dibebani kewajiban mengembalikan jam mewah Richard Mille dari Johannes Marliem. Jam tersebut ditaksir seharga US$ 135 ribu.

"Terhadap pemberlian jam tangan Richard Mille dari Andi Agustinus dan Johannes Marliem sudah dikembalikan terdakwa ke Andi Agustinus maka terdakwa tidak lagi dibebani untuk mengembaliakn uang seharga jam tangan tersebut," kata Anwar. MG

Reporter: Dimeitri Marilyn
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500