Setya Novanto di Gedung Dwiwarna KPK, Senin, (27/08/2018). Foto: Dimeitri Marilyn/Kriminologi.id

Suap PLTU Riau-1 Mengalir ke Munaslub Golkar, Setnov: Katanya Benar

Estimasi Baca:
Selasa, 28 Ags 2018 12:10:36 WIB

Kriminologi.id - KPK kembali memeriksa Setya Novanto sebagai saksi kasus dugaan suap PLTU Riau-1. Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mengaku diperiksa sebagai saksi bagi tersangka Idrus Marham.

"Ini soal Pak Idrus," kata Setya Novanto di gedung KPK Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018.

Ini adalah kedua kalinya Setnov diperiksa KPK terkait kasus yang sama setelah, Senin, 27 Agustus 2018 kemarin juga memeriksa dalam perkara yang sama. 

Pada pemeriksaan tersebut Setnov mengatakan bahwa Partai Golkar tidak terkait dengan kasus tersebut. Namun saat tiba di gedung KPK hari ini, Setnov mengubah pernyataannya.

"Katanya benar," jawab Setnov saat ditanya mengenai aliran dana suap PLTU Riau-1 untuk penyelenggaraan Munaslub Partai Golkar.

KPK juga memanggil anak Setnov, yaitu Rheza Herwindo yang juga menjabat sebagai komisaris PT Skydweller Indonesia Mandiri, seorang ibu rumah tangga bernama Nur Faizah Ernawati.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menyatakan bahwa Setnov diduga mengetahui sejumlah pertemuan pembahasan suap tersebut.

"Rheza (dipanggil karena) dicurigai ada beberapa hal yang berhubungan dengan Pak SN (Setya Novanto) dalam kapasitas apa saya belum tahu detailnya tetapi berdasarkan gelar perkara yang saya ikuti Pak SN mengetahui adanya proyek ini," kata Laode.

KPK telah menetapkan Idrus Marham sebagai tersangka dalam kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji kepada anggota DPR terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau 1 berkekuatan 2 x 300 mega watt di Provinsi Riau pada 21 Agustus 2018.

Idrus diduga mendapat bagian yang sama besar dari Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih sebesar 1,5 juta dolar AS yang dijanjikan pemegang saham Blakgold Natural Resources Limited Johanes Budisutrisno Kotjo bila purchase power agreement proyek PLTU Riau 1 berhasil dilaksanakan Johannes Kotjo dan kawan-kawan.

Idrus diduga mengetahui dan memiliki andil terkait penerimaan uang dari Eni dari Johanes yaitu pada November-Desember 2017 Eni menerima Rp 4 miliar sedangkan pada Maret dan Juni 2018 Eni menerima Rp 2,25 miliar.

Sebelumnya, KPK sudah menetapkan dua tersangka dalam kasus ini yaitu Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari fraksi Golkar Eni Maulani Saragih dan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes Budisutrisno Kotjo.

Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500