Dirut PT Quadra Solution Anang Sugiana usai menjalani pemeriksaan kasus e-KTP di Gedung KPK (28/11/2017). Foto: Antara

Terpidana E-KTP Anang Sudiana Terima Vonis, KPK Segera Eksekusi

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 18:10:59 WIB

Kriminologi.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera mengeksekusi terpidana korupsi KTP Elektronik atau e-KTP Anang Sugiana Sudihardjo. Baik Anang maupun Jaksa menyatakan menerima vonis yang diputuskan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

""Kami terima putusan karena putusan tersebut sudah memperhatikan pertimbangkan dan sesuai tuntutan jaksa," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Lie Putra Setiawan, di Jakarta, Senin, 6 Agustus 2018.

Pada 30 Juli 2018 lalu, majelis hakim Pengadilan Tipikor menjatuhkan vonis kepada Dirut PT Quadra Solutions itu dengan hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Selain itu Anang juga diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara Rp 20,732 miliar.

"Yang bersangkutan juga bersedia membayar sisa uang pengganti sekitar Rp20 miliar yang diminta oleh hakim," tambah jaksa Lie.

Terpisah, kuasa hukum Anang yaitu Andy F Simangunsong mengatakan keputusan kliennya menerima vonis tersebut karena merasa telah memenuhi keadilan.

"Anang menerima vonis, karena memang pak Anang mengakui kesalahannya dan lama vonis serta angka uang pengganti kerugian negara yang dijatuhkan sudah di bawah tuntutan KPK dan telah dirasa memenuhi rasa keadilan pak Anang," ujar Andy saat dikonfirmasi.

Sejatinya, vonis untuk Anang lebih rendah dari tuntutan Jaksa  yang menuntut agar Anang divonis selama 7 tahun dan denda sejumlah Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan dan membayar uang pengganti sejumlah Rp 39,239 miliar subsider 7 tahun kurungan.

Dalam amar putusan, PT Quadra Solution yang merupakan perusahaan milik Anang disebut telah menerima keuntungan sejumlah Rp 79,039 miliar yang diperoleh dengan cara melakukan tindak pidana korupsi. 

Uang tersebut digunakan untuk keperluan jasa advokat pada Kantor Hukum Hotma Sitompul & Associates sejumlah 200 ribu dolar AS atau Rp1,8 miliar dan kepada Setya Novanto melalui Made Oka Masagung sejumlah 3,8 juta dolar AS atau sejumlah Rp 38 miliar.

Meski majelis hakim menjatuhi vonis di bawah tuntutan Jaksa, namun permohonan Justice Collaborator (JC)-nya ditolak majelis hakim.

Begitu pula dengan permintaan Anang agar membuka blokir rekening dan pengembalian sertifikat hak milik yang disita, juga ditolak majelis hakim.

Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500