Ilustrasi Pejabat korupsi. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Tersangka Korupsi Jalan, Mantan Sekda Depok Abaikan Panggilan Penyidik

Estimasi Baca:
Rabu, 5 Sep 2018 19:15:52 WIB

Kriminologi.id - Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Depok Harry Prihanto mangkir dari panggilan pemeriksaan penyidik Polresta Depok. Harry adalah tersangka kasus pembangunan proyek Jalan Nangka yang juga menjerat mantan Wali Kota Nur Mahmudi Ismail.

"Yang bersangkutan akan dipanggil sebagai tersangka dan dimintai keterangan oleh penyidik tipikor kami sesuai dengan jadwal yang sudah kami tentukan," ujar Kapolresta Depok Kombes Pol Didi  Sugiarto pada Rabu, 5 September 2018.

Terpisah, kuasa hukum Harry Prihanto yaitu Ahmar Ikhsan Rangkuti menjelaskan bahwa ketidakhadiran kliennya karena sedang berada di luar kota yaitu Cirebon untuk keperluan pribadi yang tak bisa diwakilkan. 

"Beliau sedang ada keperluan cukup penting di Cirebon, tidak bisa diwakilkan. Keperluan pribadi (bukan urusan dinas)," kata Ahmar dikonfirmasi Kriminologi.

Selain Harry, penyidik Polresta Depok juga telah memanggil Nur Mahmudi Ismail untuk menjalani pemeriksaan pada Kamis, 5 September 2018 besok.

"Besok giliran NMI (Nur Mahmudi Ismail) yang akan diperiksa," imbuh Didik.

Didik menegaskan, jika pada pemanggilan pertama itu para tersangka tidak hadir, maka akan dilakukan pemanggilan kedua.

Nur Mahmudi dan Harry Prihanto terjerat kasus yang sama. Keduanya menjadi tersangka kasus pembangunan jalan yang dibiayai oleh APBD. Keduanya ditetapkan menjadi tersangka sejak 20 Agustus 2018 lalu usai menerima hasil audit BPKP Jawa Barat. 

Hasil audit tersebut menunjukkan adanya penyimpangan yang mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 10,7 miliar.

Pengusutan proyek yang berlangsung pada 2015 itu dimulai sejak pertengahan 2017.  Belanja lahan tersebut dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Depok masa jabatan Nur Mahmudi pada 2013, 2015, dan 2016. Namun, hingga saat ini, kondisi Jalan Nangka tidak mengalami perubahan sedangkan dana sudah mengucur.

Reporter: Erwin Maulana
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500