Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Barat Dwi Prasetyo, Foto: Antaranews.com

Yusafni Napi Korupsi yang Kepergok Jalan-jalan Dikirim ke Lapas Muaro

Estimasi Baca:
Jumat, 13 Jul 2018 16:05:20 WIB

Kriminologi.id - Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Barat memindahkan terpidana kasus korupsi Surat Pertanggungjawaban (Spj) fiktif senilai Rp 62,5 miliar, Yusafni dari Rutan Klas II B Anak Aia menuju Lapas Muaro Klas II A Kota Padang. 

Yusafni adalah narapidana kasus korupsi yang sempat kepergok jalan-jalan tanpa pengawalan di suatu tempat yang diduga Kota Padang Panjang.   

"Hari ini rencananya Yusafni dipindahkan setelah pihak kejaksaan menyerahkan terpidana kepada kami pada Kamis (12/7) dan dia resmi menjadi narapidana," kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Barat Dwi Prasetyo ketika dihubungi dari Padang, Jumat, 13 Juli 2018.

Yusafni merupakan mantan pejabat Dinas Prasana, Jalan, Tata Ruang dan Permukiman (Prasjaltarkim) Sumatera Barat yang divonis sembilan tahun penjara sehingga tidak memungkinkan menjalani masa hukuman di Rutan Klas II B Anak Aia Padang.

"Sesuai dengan janji saya, apabila kejaksaan telah melimpahkan kepada kami, maka dia akan ditempatkan di Lapas Muaro," kata dia.

Sebelumnya Yusafni tertangkap kamera sedang berada di salah satu tempat yang diduga Kota Padang Panjang yang berjarak puluhan kilometer dari Kota Padang. Di dalam foto tersebut Yusafni terlihat menggunakan baju merah, celana hitam dan menggunakan topi.

Dia terlihat berjalan dari mobil menuju sebuah bangunan dengan memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana tanpa ada pengawalan.

Dwi Prasetyo mengakui bahwa orang yang ada di dalam foto tersebut adalah Yusafni yang seharusnya berada di dalam Rutan Anak Aia Padang. Menurut Prasetyo, kejadian itu terjadi pada Jumat, 6 Juli 2018 malam dimana Yusafni mengaku sakit dan sesak nafas dan meminta petugas untuk membawanya berobat ke ahli terapi tusuk jarum.

Karena terbatasnya jumlah personel dan tidak adanya dokter di dalam Rutan Anak Aia Padang, Yusafni meminta agar petugas meminta keluarganya menjemput dan membawa dirinya berobat ke Bukittinggi.

"Dia meminta ke Bukittinggi untuk terapi akupuntur. Dan kami bilang kan, negara saja bisa dibohongi sama dia, apalagi kita petugas yang tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk memastikan dia sakit atau tidak," katanya.

Kemudian keluarganya datang dan petugas jaga memperbolehkan Yusafni dibawa oleh keluarga untuk berobat dan dirinya kembali pada Sabtu, 7 Juli 2018 malam ke dalam Rutan Anak Aia Kota Padang.

Petugas yang berjaga pada malam itu tidak memberikan laporan atau meminta izin kepada Kepala Rutan, Kepala Keamanan Rutan atau Kakanwil hingga dua hari dan kemudian foto itu ada.

"Saya tentu kecewa dengan tindakan tersebut dan langsung memerintahkan untuk dilakukan investigasi terhadap kasus ini. Kami tidak melindungi anggota yang berbuat kesalahan ini," katanya. 

 MSA
KOMENTAR
500/500