Ilustrasi lempar batu. Ilustrasi Kriminologi.id

60 Persen Pecandu Lem Aibon di Manokwari Anak Putus Sekolah

Estimasi Baca:
Jumat, 13 Jul 2018 18:00:55 WIB

Kriminologi.id - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua Barat memperkirakan 60 persen lebih pecandu lem aibon di wilayah Kabupaten Manokwari putus sekolah. Menurut Kepala BNN Provinsi Papua Barat, Brigjen Pol Untung Subagyo, korban penyalahgunaan lem aibon didominasi anak-anak usia sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Berdasarkan data investigasi pihaknya, saat ini jumlah pengguna aktif lem Aibon di Manokwari sebanyak 300 orang. Sekitar 60 persen diantaranya merupakan anak putus sekolah. Mereka putus sekolah saat menempuh pendidikan SMP.

"Dari sisi mental mereka sudah lebih berani dibanding anak-anak SD. Makanya peran orang tua sangat penting dalam pengawasan, jangan sampai lengah," kata Untung, Jumat, 13 Juli 2018.

Ia menyebutkan, pendampingan BNN saat ini sudah mulai mengarah pada para pecandu. Hal itu dilakukan untuk mencegah agar mereka tidak terjerumus pada penggunaan narkotika psikotropika dan obat-obatan berbahaya. 

Program pendampingan tersebut, kata Untung, dilakukan dengan cara merangkul korban agar bersedia menjalani rehabilitasi. Ia mengatakan, BNN Provinsi Papua Barat melakukannya dengan menggunakan pendekatan psikologis dan sosiologis.

"Kami dekati orang tuanya tapi juga tidak mudah. Mereka beranggapan BNN mau melaksanakan tindakan hukum. Padahal tidak seperti itu, bukan itu yang kami lakukan," ujar Untung.

Untung melanjutkan, namun ia mengakui usaha ini belum pihaknya jalani secara maksimal. Sebab, dari 300 anak yang teridentifikasi sebagai pengguna aktif lem Aibon, baru sekitar 10 persen yang berhasil ia dekati dan menjalani proses rehabilitasi. Ia mengatakan, oleh sebab itu, dukungan dari pemerintah daerah setempat sangatlah dibutuhkan.

"Kita butuh dukungan pemerintah daerah, ini sudah mulai terjalin seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan," katanya.

Ia juga mengatakan, idealnya, Papua Barat memiliki balai rehabilitasi untuk menampung lebih banyak pecandu, baik pecandu lem Aibon maupun narkoba. Sementara, kata Untung, balai sosial milik Dinas Sosial bisa dimanfaatkan sebagai tempat edukasi dan pendampingan.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500