Sabu-sabu. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

BNN Tuding Lapas Palangkaraya Persulit Bongkar Jaringan Narkoba

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 18:12:53 WIB

Kriminologi.id - Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalimantan Tengah menuding Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Kota Palangka Raya mempersulit membongkar jaringan kasus narkoba yang sedang ditangani.

Kepala BNNP Kalteng, Brigjen Pol Lilik Heri Setiadi mengungkapkan, sebelumnya menangkap dua pengedar narkoba jenis sabu-sabu berinisial MY (25) dan MR (22). Ternyata, dua pengedar tersebut dikendalikan oknum narapidana dari dalam Lapas. 

"Oknum narapidana yang mengendalikan dari dalam Lapas itu berinisial ZI. Kami sempat melakukan pemeriksaan, dan ternyata ZI itu pun dikendalikan oleh oknum narapidana yang berada di Lapas Katingan. Tapi, kami belum tahu siapa orangnya," katanya di Palangka Raya, Rabu, 1 Agustus 2018.

Sebenarnya BNNP Kalteng sedang berupaya mengungkap siapa oknum narapidana di Lapas tersebut melalui ZI. Namun, pihak Lapas Palangka Raya tidak berkenan ZI dibawa BNNP Kalteng untuk dilakukan penyelidikan lebih mendalam.

Lilik mengaku, pihaknya dua kali menghubungi Kepala Lapas kelas IIA Kota Palangka Raya. Saat dihubungi untuk pertama kali, masuk tapi tidak dijawab. Ketika dicoba menghubungi untuk kedua kalinya, nomor telepon genggam kalapas sudah tidak aktif.

"Jadinya pengembangan terhadap dua pengedar narkoba yang berhasil kami tangkap mengalami kesulitan. Posisi ZI sangat penting dalam mengembangkan kasus ini, tapi karena birokrasi yang ribet, ya pengembangannya jadi sulit," kata dia.

Dua oknum pengedar narkoba berinisial MY dan MR ditangkap BNNP Kalteng di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dari tangan pelaku, berhasil diamankan satu gram lebih sabu-sabu, uang tunai Rp 200 ribu, dua handphone, alat hisap sabu, timbangan digital, dan sepeda motor.

Di tempat terpisah, Kepala Lapas Kelas II A Palangka Raya, Priarso menegaskan pihaknya tidak pernah mempersulit aparat penegak hukum dalam memberantas peredaran narkoba di dalam Lapas.

Dia juga membantah sulit dihubungi via telepon untuk berkoordinasi terkait warga binaannya yang diduga mengendalikan narkoba di luar Lapas.

"Saya baru saja operasi penyakit batu empedu di Solo, Jawa Tengah. Saat itu handphone saya aktif saja, tetapi kalau ada nomor baru dan sifatnya penting pasti saya angkat. Lah, saat itu memang tidak ada pihak BNNP Malteng menghubungi saya," singkat Priarso.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500