Sabu-sabu. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Bupati Bengkalis Ancam Pecat PNS Terlibat Narkoba

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 11:40:26 WIB

Kriminologi.id - Bupati Bengkalis, Amril Mukminin mengancam akan memecat aparatur sipil negara dan pegawai honorer yang terlibat kasus narkoba tanpa pengecualian. Pemecatan itu juga akan dilakukan bagi mereka yang sudah menjadi bagian dari sindikat narkoba. 

"Sanksinya tentu pemecatan dan atas kejadian tersebut tentu akan mencoreng citra pemerintah daerah," tegas Amril, Rabu, 1 Agustus 2018.

Amril menegaskan, kasus narkoba itu telah menjerat seorang pegawai honorer di Dinas Damkar Bengkalis dengan barang bukti yang besar oleh polisi.

Atas kejadian ini, ia meminta pimpinan struktur organisasi perangkat daerah atau SOPD meningkatkan pengawasan terhadap  pegawai di masing-masing instansi.

"Saya meminta semua kepala SOPD untuk dapat meningkatkan fungsi pengawasan kepada aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai honorer, mulai dari displin, kinerja dan keterlibatan terhadap narkoba," kata Amril. 

Dengan adanya pengawasan secara teratur, kata Amril, akan dapat meningkatkan kedisiplinan dan pemahaman terhadap prinsip-prinsip kinerja aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Berdasarkan data yang dihimpun Kriminologi.id, pada Rabu, 25 Juli 2018 sekitar pukul 02.30 WIB, pegawai honorer di Dinas Damkar Kecamatan Bukit Batu Bengkalis berinisial RD tertangkap Polres Siak di Simpang Bundaran Jembatan Siak, Bengkalis.

Ia ditangkap bersama rekannya yakni BY (18) karena membawa 6 kg sabu-sabu senilai Rp 6 miliar dan 4.926 pil ekstasi senilai ratusan juta rupiah. Keduanya membungkus narkoba tersebut dalam enam kantong plastik dan menyimpannya di dalam mobilnya.

Tersangka RD pernah berstatus sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di Satuan Pamong Praja di daerah setempat. Sekitar tahun 2009, tersangka RD juga pernah terlibat kasus narkoba dan telah divonis oleh Pengadilan Negeri. Akibatnya, SK CPNS tersangka dibatalkan oleh Pemkab Bengkalis. RZ

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500