barang bukti sabu-sabu, Foto: Antara

KPAI: Keuntungan Besar Dorong Bocah SD dan SMP di Makassar Jualan Sabu

Estimasi Baca:
Jumat, 10 Ags 2018 14:20:41 WIB

Kriminologi.id - Seorang siswa SD berinisial RE dan pelajar SMP inisial AL (14) terlibat bisnis haram perdagangan narkoba jenis sabu-sabu di Makassar, Sulawesi Selatan. Bisnis narkoba yang dijalani keduanya terhenti setelah salah satu pelaku, AL tertangkap tangan oleh aparat Polsek Tallo tengah menjual sabu-sabu itu pada 6 Agustus 2018 lalu.

Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI Bidang Kesehatan, Siti Hikmawati, kasus RE dan AL  bisa terjadi karena sejumlah faktor. Salah satunya yang paling dominan karena ekonomi. 

“Terlebih bagi anak-anak, jika biasanya hanya mengantongi uang jajan yang tak seberapa. Dengan menjadi pengedar narkoba dia (pelaku) bisa mendapatkan keuntungan besar,” kata Siti ketika dihubungi di Jakarta, Jumat, 10 Agustus 2018. 

Dari penghasilan besar itulah, lanjut Siti, orang tua pelaku akhirnya turut tergiur. Pada akhirnya orang tua atau keluarga malah memiliki peran yang mendukung anaknya untuk terus menggeluti bisnis haram tersebut. 

“Keuntungan besar itu, bahkan bisa diatur sendiri oleh kedua bocah tersebut. Semakin mereka rajin menjual barang haram itu, maka akan lebih besar keuntungan yang didapat mereka,” ujarnya. 

Keuntungan besar ini akhirnya membuat para bocah tersebut nyaman melaksanakan bisnis narkoba. Dari pengalaman Siti, rata-rata anak yang terlibat perdagangan narkoba yang ditemuinya di lapas anak sulit tobat. Beberapa anak bahkan menyatakan untuk kembali menggeluti bisnis ini setelah keluar dari penjara.

Faktor ekonomi atau keuntungan yang membuat anak tergiur terjun di bisnis narkoba pun terjawab dari pengakuan tersangka AL setelah ditangkap polisi. Seperti diungkapkan AL, kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani, tersangka mengaku mendapatkan upah sebesar Rp 100 ribu setiap kali berhasil menjual paket sabu-sabu yang diberikan RE.

“Keduanya bagi hasil. Satu paket harganya Rp 200 ribu. Jadi, bagi dua,” kata Dicky. 

Sementara RE hingga kini masih buron. Dicky mengatakan, RE tergolong lihai sebagai seorang bandar narkoba. Saat dicari polisi di rumahnya setelah AL tertangkap, bocah itu melarikan diri dan belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

"Dia ini pengedar narkoba junior. Dia tahu melarikan diri, dia tahu safety place-nya dimana. Bayangkan, saat temannya (AL) ditangkap kami cek dia tidak ada di rumah," ujar Dicky.

RZ

Reporter: Tito Dirhantoro
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500