Ilustrasi sabu-sabu Fotp: Kriminologi.id

Orang Tua Siswa SD Bandar Narkoba Tak Tahu Keberadaan Anaknya

Estimasi Baca:
Kamis, 9 Ags 2018 18:20:31 WIB

Kriminologi.id - Polisi masih memburu RE, seorang siswa Sekolah Dasar di Makassar, Sulawesi Selatan yang diduga menjadi bandar narkotika jenis sabu-sabu. RE melarikan diri usai temannya, AL (14) ditangkap polisi karena membawa sabu-sabu. AL merupakan orang suruhan RE.

"Kami sudah mendatangi rumahnya tapi orang tuanya bilang tidak tahu anaknya lari kemana," kata Kapolsek Tallo, Kompol Amrin AT saat dihubungi Kriminologi.id pada Kamis, 9 Agustus 2018.

Amrin mengklarifikasi berita Kriminologi.id sebelumnya soal orang tua RE yang disebut sebagai bandar narkoba dan kini dalam penjara. Amrin mengatakan jika yang menjadi bandar narkoba adalah orang tua AL.

"Bukan, tapi yang SMP itu, orang tuanya yang bandar. Anaknya (AL) yang mengaku demikian," ujar Amrin.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengatakan RE diduga belajar meracik sabu-sabu dari orang tuanya yang juga merupakan bandar narkoba. Kedua orang tua RE saat ini masih mendekam di penjara.

"Kami yakin orang tuanya yang ajarin dia. Orang tuanya kan bandar juga," ujarnya kepada Kriminologi.id, Kamis, 9 Agustus 2018.

Dicky mengatakan RE tergolong lihai sebagai seorang bandar cilik. Saat dicari polisi di rumahnya setelah AL tertangkap, bocah itu telah melarikan diri dan belum diketahui keberadaannya hingga sekarang.

"Dia ini pengedar narkoba junior. Dia tahu melarikan diri, dia tahu safety place-nya di mana. Bayangkan, saat temannya (AL) ditangkap kami cek dia tidak ada di rumah," ujar Dicky.

Diketahui, kasus ini terungkap setelah seorang pelajar SMP berinisial AL (14) tertangkap tangan aparat Polsek Tallo, Makassar sedang menjual narkoba jenis sabu-sabu pada Senin, 6 Agustus 2018. AL mendapat upah Rp 100 ribu setiap kali berhasil menjual paket sabu-sabu yang diberikan RE.

"Keduanya bagi hasil. Satu paket harganya Rp 200 ribu, jadi bagi dua," kata Dicky.

Reporter: Marselinus Gual
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500