Pengemudi mobil tabrak separator busway. Foto: Ist/Kriminologi.id

Penabrak Motor Hantam Separator Busway di Mangga Besar Positif Narkoba

Estimasi Baca:
Kamis, 30 Ags 2018 21:55:18 WIB

Kriminologi.id - Franky, seorang pengemudi yang menabrak separator busway di kawasan Hayam Wuruk, Mangga Besar, Jakarta Barat, positif menggunakan narkoba jenis sabu-sabu.

Pria kelahiran Medan, Sumatra Utara itu, positif menggunakan sabu-sabu usai menjalani test urine di Mapolsek Tamansari, Jakarta Barat.

Kanit Reskrim Polsek Tamansari, AKP Rango Siregar membenarkan, Franky mengonsumsi sabu-sabu. Bahkan, diduga Frangky mengendarai mobil Nissan Grand Livina warna hitam dengan nopol B 1965 UIQ dalam kondisi terpengaruh narkoba.

"Iya positif mengonsumsi metafetamin," katanya dalam keterangannya kepada Kriminologi.id, Kamis, 30 Agustus 2018.

Saat disinggung apakah dalam mobil Franky ditemukan sabu-sabu, Rango mengaku tak menemukannya. Dalam mobil Franky, ia menambahkan, hanya ditemukan satu set alat hisap dan dua plastik sisa sabu-sabu.

Hingga saat ini, Rango mengatakan, Franky masih menjalani pemeriksaan intensif guna mendalami dari mana asal-muasal sabu-sabu tersebut.

"Tidak ada ditemukan sabu, hanya plastik klip saja. Sampai saat ini masih kamu periksa ya," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Polisi mengamankan Franky, pengemudi mobil yang menabrak separator busway di kawasan Hayam Wuruk, Mangga Besar, Jakarta Barat.

Setelah diamankan, polisi melakukan tes urine terhadap Franky. Saat polisi melakukan penggeledahan, di dalam mobilnya ditemukan benda-benda mencurigakan yang diduga terkait penggunaan narkoba.

Bahkan, pada mobil Nissan Grand Livina warna hitam dengan nopol B 1965 UIQ yang dikendarai Franky, polisi menemukan tiga butir obat kuat merk Lian Zhan Qi Tian, dan empat butir obat penenang merk Esilgan Estazolam. 

Selain itu juga ditemukan dua tutup botol alat pakai narkoba jenis sabu, dua plastik klip kosong bekas sabu, satu buah pipet, alumiunium foil bekas pakai, korek api, dan sedotan.

Reporter: Rizky Adytia
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500