Ilustrasi sabu-sabu, ilustrasi: Dwiangga Perwira

Siswa SMP Edarkan Sabu, Sosiolog: Peran Keluarga Besar Memudar

Estimasi Baca:
Jumat, 10 Ags 2018 14:05:07 WIB

Kriminologi.id - Dua siswa yang terdiri dari murid SD dan SMP menjadi bandar dan pengedar narkoba jenis sabu-sabu. Fenomena tersebut dinilai sebagai bentuk implikasi dari terkikisnya peran keluarga besar pada masyarakat modern.

Sosiolog dari Universitas Indonesia, JF Warouw menilai, anak-anak yang masuk dalam kejahatan narkoba akibat dari peran keluarga besar yang semakin memudar dalam kondisi masyarakat modern.

Menurut Warouw, dalam kondisi masyarakat kota saat ini sudah jarang didapati keluarga besar yang mengintervensi persoalan keluarga kecil yang terdiri dari pasangan suami istri dan anak-anak.

“Kalau dulu ada yang namanya keluarga besar masih bisa intervensi, sekarang udah nggak bisa. Kakek, nenek, paman bisa intervensi. Paman bisa menegor keponakan jika melakukan kesalahan,” ujar Warouw melalui sambungan telepon, Jumat, 10 Agustus 2018.

Warouw menjelaskan, peran keluarga besar di masyarakat sudah jarang dipraktikan lagi. Pasalnya, anak dalam sebuah keluarga akan tersosialisasi oleh siapa yang mendidik.

“Sekarang sudah keluarga nukleus. Anak kita tersosialisasi siapa yang mendidik, oleh pembantu misalnya, karena orang tua hampir 8 jam bekerja di luar rumah. Tapi kalau dulu, anak sering dititip kepada keluarga, jadi yang mengasuh keluarga,” ujar Warouw menambahkan.

Terkait pengaruh buruk dalam sebuah keluarga, proses menangkal hal-hal buruk tersebut bisa ditangkal dalam keluarga besar dan bisa diminimalisir oleh individu-individu dalam keluarga besar tersebut.

Selain itu, menurut Warouw fenomena keluarga saat ini yang ada di masyarakat sudah masuk kepada e-society atau masyarakat digital. Sehingga hal itu menyebabkan masyarakat lebih mudah melepaskan dari keluarga besar.

“Apalagi sekarang yang menunjang anak-anak adalah media sosial, gadget. Barang-barang itu sudah menjadi kebutuhan anak. Sehingga fenomena sekarang sudah masuk e socity dan itu mudah karena lepas dari extended,” kata Warouw.

Diberitakan sebelumnya, siswa SMP berinisial AL (14) ditangkap polisi, karena mengedarkan narkoba jenis sabu-sabu di Makassar, Sulsel. AL mendapat upah Rp 100 ribu setiap kali berhasil menjual paket sabu-sabu.

Polisi masih memburu RE, seorang siswa Sekolah Dasar di Makassar, Sulawesi Selatan yang diduga menjadi bandar narkotika jenis sabu-sabu. RE melarikan diri usai temannya, AL (14) ditangkap polisi karena membawa sabu-sabu. AL merupakan orang suruhan RE. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500