Ilustrasi Hambali dalam penjara: Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

11 Agustus 2003, Akhir Perburuan Pentolan Jamaah Islamiyah Hambali

Estimasi Baca:
Sabtu, 11 Ags 2018 06:05:19 WIB

Kriminologi.id - 11 Agustus 2003, menjadi penanda akhir pelarian pentolan garis keras Jamaah Islamiyah Riduan Isamuddin atau dikenal dengan nama Hambali. Pria kelahiran Cianjur, Jawa Barat yang menjadi buronan teroris di masa 2000-an awal itu berhasil ditangkap di Thailand.

Berdasarkan laporan CNN, Hambali ditangkap di sebuah kawasan di Asia Tenggara, yakni di Kota Ayutthaya, Thailand. Penangkapan tersebut merupakan hasil dari operasi gabungan oleh Central Intelligence Agency (CIA) dan kepolisian Thailand pada 2003.

Dari tempat persembunyiannya, polisi juga menyita bahan peledak dan sejumlah senjata api. Penangkapan itu menandai berakhirnya perburuan 20 bulan terhadap Hambali, yang saat itu berusia 37 tahun.

Keberhasilan menangkap Hambali digadang-gadang sebagai keberhasilan dalam perang melawan teror. Penangkapan teroris asal Indonesia ini pun kerap dibangga-banggakan komunitas intelijen Amerika Serikat.

Hambali merupakan pemimpin militer organisasi berbasis Islam garis keras Jemaah Islamiyah, yang diduga kuat terhubung dengan Al-Qaeda.

Sentralnya peran Hambali dalam beberapa serangan teror membuat mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush memberikannya predikat sebagai salah satu teroris paling berbahaya di dunia.

Selain itu, Hambali sering digambarkan sebagai “Osama bin Laden dari Asia Tenggara”. Ia merupakan sosok yang sangat dipercaya oleh Al-Qaeda, dan menjadi penghubung utama antara Al-Qaeda dan Jemaah Islamiyah.

Bahkan, Hambali juga disebut-sebut sebagai satu-satunya orang di Asia Tenggara yang mendapatkan tempat di puncak elit Al-Qaeda.

Ia adalah teman dekat Khalid Shaikh Mohammed, yang merencanakan Operasi Bojinka dan Serangan Teroris 11 September. 

Hambali memiliki ambisi untuk menciptakan sebuah negara Muslim, dalam bentuk negara adidaya Islam di Asia Tenggara, dengan dirinya sebagai Khalifah atau pemimpinnya. Ambisinya adalah untuk memerintah Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan beberapa bagian Filipina, Myanmar dan Thailand.

Dengan ambisi seperti itu, Hambali pun menjadi warga negara Indonesia yang paling dicari pihak keamanan banyak negara saat itu, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina. 

Namanya menjadi pusat perhatian setelah terjadinya peristiwa pengeboman di Bali pada 2002, yang menyebabkan 202 orang tewas.

Hambali diduga kuat mempunyai peran penting dalam peristiwa bom yang menghancurkan Sari Club dan Paddy’s Bar pada 12 Oktober 2002 itu.

Hambali ditangkap di Ayutthaya, Thailand, pada 11 Agustus 2003. Kemudian sejak 2006, ia ditahan di penjara militer Amerika Serikat di Guantanamo, Kuba, tanpa diadili terlebih dahulu, setelah tiga tahun ditahan oleh CIA di sebuah lokasi rahasia.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500