Kriminologi

13 September 2000, Bom Bursa Efek Jakarta Tewaskan 15 Orang

Estimasi Baca:
Kamis, 13 Sep 2018 17:05:09 WIB

Kriminologi.id - Bom meledak di gedung Bursa Efek Jakarta pada 13 September 2000. Bom yang berbahan TNT dengan berat 50 kilogram tersebut meledak pada pukul 15.17 WIB dan mengakibatkan 15 orang tewas dan 90 orang luka-luka.

Polisi kemudian menangkap lima orang pelaku pengeboman tersebut yaitu Tengku Ismuhadi Jafar, Iwan Setiawan, Ibrahim Manap, Irwan, dan Ibrahim Hasan. Sebelumnya, para pelaku telah melakukan survey lokasi dan gedung Bursa Efek Jakarta pada tanggal 10 dan 11 September 2000.

Kemudian pada hari meledaknya bom tersebut, mereka mendatangi gedung BEJ dengan menggunakan dua mobil yaitu mobil Corona Mark IIB berwarna biru dengan nomor polisi B2676 WL dan mobil Suzuki Sidekick berwarna ungu dengan nomor polisi B 2487 BY.

Mobil Corona yang dibawa Irwan langsung masuk ke gedung BEJ dan memarkirkan mobil tersebut di lantai P2. Setelah itu, Irwan segera meninggalkan lantai parkir tersebut dengan menggunakan lift dan keluar gedung menuju mobil Suzuki yang dikemudikan oleh Iwan Setiawan.

Di dalam mobil kedua telah ada Irwan, Tengku Jafar, Ibrahim Manap, dan Ibrahim Hasan. Mereka sengaja tidak ikut masuk ke dalam gedung dan justru memberhentikan mobilnya di jalan yang terletak di luar gedung BEJ untuk menunggu Irwan.

Setelah Irwan bergabung di mobil tersebut, Iwan Setiawan kemudian mengarahkan mobilnya ke arah Parkir Timur Senayan dan sempat berhenti sebentar untuk meminum minuman ringan. Tidak berapa lama, bom di gedung BEJ meledak.

Para pelaku ternyata kembali ke Gedung BEJ dan bergabung dengan masyarakat yang ada di sekitar gedung tersebut untuk melihat hasil dari pengeboman yang mereka lakukan. Sekitar setengah jam berada di lokasi kejadian, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Seorang pelaku bernama Irwan rupanya adalah Anggota Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat yang berpangkat sersan dua juga sempat menjadi pembicaraan publik. Namun, Kepala Staf Angkatan Darat saat itu yaitu Jenderal Tyasno Sudarto menyatakan bahwa anggotanya yang terlibat dalam pengeboman tersebut sudah sebulan meninggalkan kesatuannya atau desersi.

Bom di gedung BEJ tidak hanya mengakibatkan korban jiwa, korban luka, dan kerugiaan materiil saja akan tetapi juga berdampak pada perdagangan bursa efek saat itu. Transaksi jual beli di pasar finansial Indonesia sempat dihentikan selama dua hari karena peristiwa tersebut. Akibatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia melemah hingga 954 poin.  

KOMENTAR
500/500